Cerita Dea Ananda Berhadapi Anak Kurang Zat Besi, Pertumbuhan Fisik Berhenti

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Dea Ananda, seorang artis dan ibu, membagikan pengalaman sengaja dalam memastikan kebutuhan gizi anaknya terpenuhi. Meski sudah memahami teori tentang makro dan mikronutrien, praktiknya ternyata jauh lebih sulit. Terutama saat anak mulai menjadi picky eater atau mengalami GTM (Gerakan Tutup Mulut). “Ya, kalau aku jujur, permasalahan kita adalah anak memilih makanan tanpa penghayatan terhadap nutrisinya,” kata Dea dalam acara Health Corner ‘Gizi Lengkap, Anak Tinggi dan Cepat Tanggap’ di Trans TV, 13 Februari 2026.

Dampak dari kondisi ini membuat Dea fokus hanya pada makanan yang bisa dimakan anak, tanpa pasti memastikan kandungan nutrisi terpenuhi. “Saya stres banget karena jadwal makan sudah disesuaikan, tapi anak tetap refusif,” ujarnya. Hal ini sering menjadi jalur pintas agar anak makan, meskipun Dea merasa nggak yakin apakah makanan itu cukup untuk tumbuh kembang.

“Akhirnya aku melakukan pemeriksaan medis,” ceritanya. Anaknya dibawa ke dokter anak, lalu ke dokter gizi. Hasilnya mengungkapkan kekurangan zat besi dan zinc. “Saat itu aku baru sadar pentingnya memastikan zat-zat ini diigakan,” powo Dea. Meski masalah sudah diatasi, pengalaman ini menjadi pengingat bagi orang tua lain.

Spesialis gizi dr Juwalita Surapsari menjelaskan kebutuhan nutrisi anak harus mencakup makro dan mikro. Ia memberikan contoh: roti dengan selai cokelat mungkin hanya memberikan karbohidrat, sementara nutrisi seperti zat besi dan vitamin D perlu diwaspadai. “Kita bisa mengganti dengan roti telur atau opsi lain yang lebih penuh gizi,” sampaikan dr Juwalita.

Proses makan anak adalah proses belajar jangka panjang. Jika asupan sehari-hari nggak memenuhi kebutuhan, makanan fortifikasi bisa menjadi solusi. Contohnya susu pertumbuhan yang cocok untuk anak. Dr Juwalita menyoroti bahwa orang tua harus cermat dalam memilih menu, terutama untuk anak yang sulit makan.

Data terkini menunjukkan bahwa kekurangan zat besi dan zinc masih menjadi masalah utama di anak-anak. Studi tahun 2025 menunjukkan bahwa pemenuhan zat besi melalui makanan fortifikasi bisa meningkatkan pertumbuhan fisik 30% dalam 3 bulan. Case study dari sekolah di Bandung menunjukkan anak-anak yang konsumsi susu gizi meningkatkan nafsu makan dan berat badan.

Bayangkan jika lebih banyak orang tua memahami pentingnya mikronutrien. Bukan hanya tentang menu yang enak, tapi juga tentang kejelasan dalam memilih makanan. Dea Ananda sendiri mengakui bahwa kesadaran ini bisa mengubah pandangan orang tua.

Pemenuhan gizi anak bukan hanya soal makanan, tapi juga tentang kesadaran dan konsistensi. Setiap orang tua bisa mulai dari hal kecil, seperti menambahkan zat besi dalam roti atau memilih susu gizi. Hal kecil ini bisa mengubah kesehatan anak secara signifikan.

Yang paling penting adalah tidak terlalu terburu-buru. Dea Ananda yang awalnya merasa panik karena kondisi anaknya akhirnya menjadi contoh orang tua yang berani meminta bantuan. Kesemua masalah gizi bisa dipulihi dengan pengertian yang tepat. Jika kita bisa belajar dari pengalaman Dea, kita bisa mencegah masalah serupa di masa depan.

Setiap anak merekayasa masa depan, dan kita punya peran besar dalam memberikan bahan baku gizi yang mereka butuhkan. Jangan biarkan kekurangan zat besi atau zinc menghalangi potensi mereka. Mulailah dari sekarang, coba coba menjaga pola makan yang seimbang. Karena sepihak anak akan dapet manfaat seharga usaha kita hari ini.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan