Catatan Prof Didik Rachbini: Kebijakan dan Praktik Kampus RI

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Prof Didik J Rachbini, rektor dari Universitas Paramadina, mengkritik kebijakan dan praktik yang ada di tingkat perguruan tinggi Indonesia. Menurutnya, kualitas kampus-kampus di Tanah Air semakin tertinggal karena pembiayaan dan strategi yang tidak sesuai. Dia merasa PTN (Perguruan Tinggi Negeri) telah berubah menjadi lembaga yang lebih fokus pada penyerapan mahasiswa masa depan daripada memproduksi ilmu pengetahuan.

Fenomena ini muncul setelah PTN dan PTNBH (Perguruan Tinggi Non-Hukum Berbadan Hukum) dipaksa mencari pendapatan sendiri. Sebagai contoh, UNESA menangkap 26 ribu mahasiswa baru per tahun, UB 18,5 ribu, dan UGM 18,4 ribu. Prof Didik menekankan bahwa sistem ini tidak masuk akal karena mengaruhi institusi untuk menjadi “teaching university” yang mengerjakan pendapatan, bukan “research university” yang mengembangkan riset.

Data global menunjukkan bahwa kampus top dunia seperti Harvard hanya menampung 23 ribu mahasiswa berkualitas, sementara universitas di Malaysia dan Singapura, seperti NUS dan NTU, sudah memenuhi ranking di top 10. Indonesia, dengan pendekatan ini, tak bisa bersaing. Prof Didik menilai kebijakan ini mengganggu mutu akademik dan memicu persaingan tidak sehat antara PTN dan PTS (Perguruan Tinggi Swasta).

Sebagai rekomendasi, dia menyarankan batas jumlah mahasiswa baru di PTN besar, menggeser fokus ke riset (S2-S3), dan mengembangkan sistem insentif untuk dosen dan PTS. Selain itu, perlu pembangunan klaster riset nasional di bidang strategis seperti energi dan kesehatan.

Indonesia harus berani mengubah arah kebijakan pendidikan. Semakin lama, semakin bagus akan dampak kebijakan yang mengurangi kualitas akademik. Jika kampus-kampus tidak bertransformasi, negara ini akan terus tertinggal di lait rangking global. Solusi harus memulai dari prioritas mutu, bukan kuantitas.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan