Profil Pelaku Penculikan Bayi di Tasikmalaya Akhirnya Terungkap

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Di Tasikmalaya, Thecuy.com menyoroti kasus penculikan bayi di Masjid Agung Singaparna sebagai pengalaman belajar. Karena tidak semua individu di dunia medsos berkecilahannya. Peristiwa ini menunjukkan risiko yang bisa muncul dari interaksi virtual, meski terlihat tidak terduga.

WR (410, seorang ibu dari Padakembang, Tasikmalaya) mengalami tekanan dari pria bernama WD (38) yang dikenal melalui media sosial. WD ini secara bertahap mendekati WR sebelum melakukan tindakan jahat. Meskipun WR memiliki hubungan dengan WD, ia tidak menyadari niat jahatnya hingga terjadi penculikan bayi laki-lainnya berusia dua bulan.

Policer mengungkap bahwa WD menggunakan strategi manipulasi psikologis melalui medsos. Ia sering menyalahkan WR dengan klaim tentang ancaman terhadap bayi jika WR melapor hal ini. Teknik ini membuat WR merasa bersalah dan takut, sehingga tidak berani untuk bertindak. Polres Tasikmalaya berhasil memangkap WD melalui operasi di Cianjur.

Motif WD tidak hanya mencuri harta atau uang, tetapi juga ingin memanfaatkan situasi untuk memenuhi keinginan jahat. Agus Yusup Suryana, IPDA Polres Tasikmalaya, menjelaskan bahwa WD sering mengancam WR melalui pesan teks atau video di medsos. Ancaman ini mencakup ancaman fisik terhadap bayi jika WR berusaha melaporkan.

Peristiwa ini menyoroti bagaimana media sosial bisa menjadi alat kekerasan modern. Tak hanya memungkinkan komunikasi, tapi juga memberikan kesempatan bagi penipu untuk menyelidiki korban. WR, yang awalnya merasa dekat dengan WD, kemudian menjadi korban karena kepercayaan dan keterikatan yang dibangun secara virtual.

Penculikan ini juga mengingatkan masyarakat untuk waspada dalam menggunakan medsos. Meski terlihat aman, interaksi dengan orang terlalu dekat atau tidak dikenal bisa membawa risiko serius. Polisi menyarankan untuk tidak membuka diri tanpa pengetahuan yang jelas, terutama ketika ada yang begitu sering muncul di media sosial.

Gaya komunikasi via medsos perlu dirawat dengan ketat. Pengguna harus mempelajari cara mengidentifikasi perilaku tidak normal dalam percakapan digital. Dibreaks, ketika ada tanda penipuan atau ancaman, sebaiknya segera melaporkan ke pihak yang berwenang.

Dengan kasus ini, masyarakat Tasikmalaya dapat belajar bahwa teknologi tidak selalu aman. Kepercayaan harus dirawat, terutama terhadap orang yang terlihat terlalu mendekati atau menawarkan hal yang tak terduga. Penghapusan rahasia atau ancaman melalui medsos harus dirumuskan sebelum memicu kekacauan fisik.

Percaya diri bukanlah pendapat, tapi keterampilan untuk memahami siapa yang benar-benar berdampak. Di era medsos, penting untuk selalu mempertanyakan kehadiran orang di sekitar, baik di dunia fisik maupun virtual. Hati-hati dengan keinginan jahat yang bisa menyentuh hati tanpa batas.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan