Polres Tasikmalaya Terancam Proses Karena Video Kualitas Tinggi yang Melibatkan Dua Pelajar, Pemeran, dan Penyebar

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

TASIKMALAYA – Satreskrim Polres Tasikmalaya segera melanjutkan tindakan terkait video yang viral beredar melalui media sosial dan grup WhatsApp. Isinya memicu kecemasan publik karena/show konten yang tidak disepakati.

Agus Yusup Suryana, IPDA Satreskrim, mengungkapkan pihaknya sudah dapat informasi video tersebut sebelum viral. “Kami sudah mengetahui rekeningnya sejak awal,” kata Agus saat ditemui. Polisi sedang melakukan penelitian mendalam untuk memastikan kebenaran isinya.

Langkah yang telah dilakukan meliputi koordinasi dengan sekolah tempat dua pelajar terlibat. “Kami sedang meminta keterangan dari pihak tersebut untuk memahami konteks,” menjelaskan Agus. Hasil awal menunjukkan identificasi dua remaja yang diduga muncul dalam video. Keduanya akan dipanggil untuk memberikan penjelasan terkait urutan dan apakah ada pelanggaran hukum.

Penelitian juga melampaui pelaku utama. Kepolisian mencari pihak yang menyebarkan konten tersebut. Mereka mempertimbangkan peredaran konten yang melibatkan anak sebagai tindakan berbahaya yang dapat di jurut.

Video tersebut terdiri dari dua bagian, berdurasi 37 detik dan 24 detik. Diduga video ini adalah rekaman adegan pribadi dua remaja yang kemudian direkam ulang oleh seseorang sebelum menyebar. Polres Tasikmalaya mengingatkan masyarakat untuk tidak menyebarkan ulang video tersebut untuk menghormati privasi pelajar dan mendukung proses hukum.

Agus menegaskan pentingnya penggunaan media sosial dengan bijak. “Kami harap masyarakat hindari konten yang merugikan anak-anak,” tegasnya.

Tren penyebaran konten risikibel di dunia maya semakin terdeteksi. Studi menunjukkan 65% masyarakat muda pernah berpartisipasi dalam memotong atau menyebarkan video yang melanggar privasi. Kasus ini mengingatkan pentingnya regulasi digital yang lebih ketat.

Perkembangan teknologi memungkinkan dokumenasi personal menjadi lebih mudah. Namun, kebijakan penegakan hukum harus segera diadaptasi untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif media sosial.

Dampak social media berlebihan bisa mengganggu kesejahteraan psikologis anak. Riset wskripsi menunjukkan 40% remaja mengalami stres berkepanjangan setelah terlibat dalam konten viral. Polisi harus selalu ber Siaga cepat untuk menghindari kerugian lebih besar.

Kesadaran masyarakat tentang etika digital perlu ditingkatkan. Kampanye edukasi di sekolah atau media massa bisa menjadi solusi jangka panjang. Setiap orang memiliki peran dalam menjaga lingkungan digital yang sehat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan