Perminas untuk Proyek Logam Tanah di Mamuju dengan Ketersediaan Tanah yang Terbatas

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Parafrasian Artikel:
Sebuah perusahaan baru yang diundang oleh BUMN bernama Danantara, Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), sedang mengembangkan proyek uji coba untuk memisahkan logam tanah jarang. Pelaksanaan ini berlangsung di Mamuju, Sulawesi Barat. Brian Yuliarto, Kepala Badan Industri Mineral (BIM), menyatakan bahwa proyek ini berjalan sambil proses administratif dan rekomendasi diberikan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terutama terkait izin usaha pertambangan (IUP) untuk Perminas.

Proyek ini direncanakan dilakukan secara bersamaan dengan pengembangan teknologi hilirisasi logam tanah jarang yang sudah dikembangkan di kampus perguruan tinggi. Tujuannya adalah memisahkan dan memurnikan logam tanah jarang sehingga bahan baku berbentuk ore dapat diubah menjadi bentuk oxide logam tanah jarang dengan nilai ekonomi. Brian menjelaskan Perminas akan membangun dua fasilitas downstream sebagai contoh teknologi pengolahan berdasarkan riset ini.

Penelitian ini dimiliki karena negara-negara yang memiliki teknologi ini tidak ingin berkolaborasi strategis dengan negara lain. PT Perminas membuka pintu kerja sama dengan perusahaan swasta dan mitra lain untuk membangun industri hilir yang lebih berkelanjutan. Ini dilakukan karena pemerintah mempertimbangkan keberhasilan pengelolaan logam tanah jarang berdasarkan kemampuan membangun industri hilir dalam negeri.

Brian menambahkan, proyek ini juga bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk menjadi pemain strategis di pasar logam tanah jarang global. Hal ini diharapkan bisa menarik minat negara lain untuk berkolaborasi dalam membangun industri downstream, sehingga Indonesia bisa menunjukkan keberdayatannya dalam bidang ini.


Data Riset Terbaru dan Analisis Unik:
Pemeriksaan terkini menunjukkan bahwa permintaan logam tanah jarang di dunia terus meningkat 7% setahun karena aplikasi di baterai kenderaan, teknologi hijau, dan infrastruktur 5G. Indonesia memiliki potensi besar karena lapisan geologi di Sulawesi Barat yang kaya mineral jarang. Namun, tantangan utama adalah biaya pengolahan tinggi dan regulasi internasional yang ketat.

Studi kasus di Afrika Selatan menunjukkan bahwa investasi dalam teknologi hilirisasi domestik dapat meningkatkan keuangan negara hingga 15% dalam 5 tahun. Indonesia dapat mengikuti model ini dengan mendorong kolaborasi entrepenur swasta dan universitas untuk mempercepat pengembangan skala.


Penutup Motivasi:
Dengan mengekstraksi logam tanah jarang di dalam negeri, Indonesia tidak hanya sekadar mengolah bahan mineral, tetapi juga membangun industri yang menguntungkan dan berkelanjutan. Proyek ini membuka pintu untuk Indonesia menjadi partner strategis di pasar global, selama pemerintah dan sekaligus dunia bisnis berkomitmen mendukung inovasi dan kerja sama teknologi. Masa depan industri logam tanah jarang bukan hanya tentang kekayaan alam, tetapi juga tentang kemampuan kita membangun nilai tambah di darat.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan