Nilai Trump Getol Lancarkan Aksi Perang Dagang untuk Saingi China

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Keterlibatan pemerintah Amerika Serikat dalam konflik perdagangan global, terutama dengan China, telah memicu volatilitas ekonomi, peningkatan harga konsumsi, dan gangguan rantai pasok. Langkah proteksionisme Trump, seperti penegakan tarif impor, dianggap sebagai strategi untuk melindungi pasar AS dari persaingan yang pesat dari negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

Chairul Tanjung, pengusuh CT Corp, menekankan bahwa kecepatan pertumbuhan perdagangan AS jauh terlambat dibandingkan China. Data menunjukkan perdagangan AS melonjak dari US$ 2 triliun pada tahun 2000 menjadi US$ 5,3 triliun pada 2024, naik 167%. Sementara itu, perdagangan China melonjak dari US$ 474 miliar menjadi US$ 6,2 triliun, dengan peningkatan 1200%. Angka ini mengungkapkan dominansi China dalam perdagangan global yang semakin menakutcan.

“Perdagangan AS terhadap Indonesia juga mengalami peningkatan drastis,” ujar Tanjung. Nilai perdagangan AS terhadap Indonesia naik dari US$ 12,7 miliar pada 2000 hingga US$ 38,2 miliar saat ini, sedangkan perdagangan China dengan Indonesia melonjak dua kali lipat. Hal ini menggeser keinginan AS untuk melindungi pasar inilah yang menjadi alasan utama atas penegakan tarif. Tanjung menyarankan, tanpa upaya mendorong ekonomi domestik, AS mungkin kehilangan ketegangan global dalam waktu singkat.

Data baru menunjukkan bahwa pertumbuhan perdagangan China dan AS menantang keseimbangan pasar global. Studi dari lembaga ekonomi internasional pada 2026 memperkirakan China mungkin menjadi pemimpin perdagangan world hingga 2030 jika AS tidak melakukan inovasi atau penegakan kebijakan domestik. Rencana ini memperkuat kebutuhan untuk politik ekonomi yang agresif, seperti yang dilakukan Trump.

Sebagai businessman praktis, Trump memahami bahwa ekonomi adalah perjuangan untuk bertahan. Kebijakan perdagangan bersifat proteksionisme ini, meskipun kontroversial, dilihat sebagai langkah penyelamat. Namun, eksperta warasas menyarankan, keberhasilan jangka panjang membutuhkan strategi yang lebih inklusif, bukan hanya fokus pada pertahanan pasar.

Langkah Trump menunjukkan kesadaran bahwa perdagangan global bukan lagi kompetisi yang bisa diabaikan. Indonesia juga harus mengembangkan kapasitas industri dan teknologi untuk tidak terlalu bergantung pada perdagangan eksternal. Kolaborasi antarnegara untuk mengatur pertumbuhan perdagangan yang berkelanjutan menjadi solusi yang perlu dipertimbangkan.

Dengan persaingan yang semakin ketat, negara harus memilih antara proteksi pasar dan integrasi ekonomi global. Keputusan ini akan menentukan apakah AS dan China akan tetap menjadi kekuatan dominan atau menghadapi tantangan baru dari negara lain.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan