Meningkatkan Mental-Keagamaan di Aceh: Tito Puji Beri Penguatan kepada Pengungsi

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Pemimpin Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menekankan peran penting tokoh agama dalam mendukung kondisi psikologis korban bencana. Ia berpendapat bahwa dukungan spiritual harus menjadi prioritas ketika masyarakat berupaya membangun kembali kehidupan.

Tito mengapresiasi kontribusi ulama Aceh yang terus memberikan sadar dan kepercayaan kepada pengungsi. “Kami meminta dukungan dan doanya agar kita bisa melaksanakan ibadah dan aktivitas kemanusiaan ini,” kata Tito saat forum Silaturahmi MPR RI di Aceh.

Pemerintah pusat telah mempertanggungjawabkan 52 wilayah yang terpancang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Provinsi Aceh dikaitkan dengan dampak bencana yang paling parah. Untuk mempercepat pemulihan, penugasan dibagikan lintas kementerian: Kementerian Pekerjaan Umum mengatasi infrastruktur, Kementerian Perdagangan mendukung ekonomi, dan Kementerian Kesehatan menjaga layanan medis.

Tito menjelaskan, dari awal bencana, Presiden Prabowo langsung meminta kerja sama TNI, Polri, dan lembaga lain. Penyewaan rapat langsung dengan kepala daerah dan pihak terkait membantu menentukan masalah benda dan alokasi tugas. “Dengan ini, kami bisa memastikan distribusi bantuan yang tepat dan cepat,” ujarnya.

Pemerintah juga terus mengamati penyebaran bantuan melalui data riwayat. Contohnya, pelaksanaan layanan pasar di daerah yang masih kosong atau infrastruktur yang belum sehat. Kementerian UMKM fokus pada pendanaan mikro dan pelatihan usaha, sementara Kementerian Kesehatan memastikan ketersediaan fasilitas kesehatan dasar.

Pernah ini, upaya penguatan spiritual dan mental dianggap sebagai fondasi awal pemulihan. Tito meminta ulama dan tokoh agama untuk terus berpartisipasi dalam penyebaran pesan harap dan dukungan sosial. “Kehidupan setelah bencana bukan hanya tentang fisik, tetapi juga kekuatan jiwa dan keragaman budaya yang harus diperkuat,” katanya.

Aceh, yang telah melalui bencana berulang, menjadi contoh adaptasi masyarakat. Penggunaan teknologi dalam distribusi bantuan dan pelatihan umat umat berperan. Di sisi lain, kolaborasi lintas wilayah dan lembaga tetap menjadi kunci agar proses rehabilitasi lebih efisien.

Banyak masyarakat masih menghadapi tantangan ekonomi dan emosi. Di Aceh, beberapa keluarga belum bisa kembali ke rumah karena kerusakan infrastruktur. Pemerintah terus memantau progres dan menyesuaikan strategi.

Penanganan bencana ini membutuhkan kesabaran dan kerja sama. Tiap individu, kelompok, atau lembaga memiliki peran. Tiap orang bisa berkontribusi mulai dari donasi hingga partisipasi dalam program terobosan.

Kesuksesan penyelamatan bencana tidak hanya berhubung dengan dana atau tenaga, tetapi juga dengan dukungan spiritual yang mendalam. Ketika masyarakat berani mempertahankan keyakinan dan saling bantuan, proses pemulihan bisa lebih cepat dan berkesinambungan. Setiap usaha, meskipun kecil, bisa menjadi langkah awal kemajuan.

Dampak bencana akan terasa lama, tetapi dengan semangat bersama, masyarakat bisa mengejar harapan. Rekonstruksi bukan hanya membangun gedung atau jalan, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih kuat dan harmonis. Haraplah yang dukungan spiritual dan mental tetap menjadi fondasi dalam perjalanan mendadak ini.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan