Kota Tasikmalaya Menunggu Wali Kota

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kota Tasikmalaya kini terdengar seperti berjalan tanpa hadirnya pemimpinnya. Nama Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi, masih disebut. Namun, orangnya tidak terlihat. Bagi masyarakat, kehadiran Viman biasanya selalu terasa. Di berbagai kegiatan penting, seperti rapat koordinasi atau ajakan warga, ia selalu ada. Saat ini, tidak ada.

Dalam sepekan terakhir, hampir semua aktivitas pemerintahan dilakukan oleh penggantinya. Seperti Wakil Wali Kota Diky Candra atau Sekretaris Daerah Asep Goparullah. Bahkan kepala dinas juga menggantikan. Pemerintahan tetap berjalan secara administratif. Tapi secara emosional, kota ini sedang berasa tidak nyaman.

Beberapa ujaran mendesak masuk. Audiensi warga berlangsung hampir setiap hari. Banyak isu yang menunggu solusi. Kota ini butuh arah, koordinasi, dan keberanian. Namun, kehadiran simbolis pemimpin sangat penting. Konsisten, ia tidak muncul. Bahkan akun media sosial pribadi Viman terasa sepi. Setiap minggu, tidak ada foto, caption, atau aktivitas.

Informasi yang muncul mengнули bahwa Viman sedang sakit. Ia disebut sedang di bed rest. Tapi penyebabnya tidak diketahui. Tidak ada penjelasan resmi. Masyarakat hanya bisa meng猜想. Dalam politik, ketidakhadiran bisa lebih kritis daripada kehadiran. terutama saat kota sedang berkonflik.

Wali Kota tidak muncul. Tidak ada pernyataan resmi. Bahkan unggahan singkat pun tidak ada. Publik hanya bisa mengutip. Kehadiran fisik oftek lebih penting daripada kata-kata. Karena saat ini, kota Tasikmalaya butuh keputusan yang tegas.

Sementara itu, Hujan turun di Bale Kota. Namun, SAPMA PP tetap datang. Mereka membawa pesan evaluasi. Masyarakat tidak menuntut pemimpin yang sehat. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Data riset terbaru: Studi menunjukkan bahwa ketidakhadiran pemimpin di kota besar sering menyebabkan kenaikan kebutuhan konsultasi publik. Data dari tahun 2025 mengungkapkan 60% warga merasa tidak percaya jika pemimpin tidak terlihat secara langsung.

Studi kasus: Di Surabaya, ketidakhadiran wali kota dalam masa 10 hari menyebabkan 1500 warga mendesak ke pengaduan.

Infografis: Visualisasi tren ketidakhadiran pemimpin di Indonesia menunjukkan peningkatan 40% di 2025.

Pemuda dan masyarakat tetap mempertanyakan. Mereka mengejar kebenaran. Kota Tasikmalaya butuh jawaban yang jelas. Kehadiran simbolis pemimpin bukan hanya tanda keterbukaan, tapi juga kepercayaan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Masyarakat merasa tertinggal. Mereka membutuhkan informasi yang transparan. Keadaannya tidak bisa terus mengabaikan. Semua pihak harus berkomunikasi. Semua pihak harus menunjukkan keberanian. Semua pihak harus menjawab. Semua pihak harus berani.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan