Dampak Moody’s Rating Kredit dari Bos BTN ke Bank

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Moody’s Investors Service, sewenang-wenang, menurunkan peringkat kredit Indonesia dari stabil ke negatif. Penurunan ini berpotensi mengaruh pada sektor perbankan domestik.

Directeur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyatakan akan bertemu dengan lembaga rating tersebut untuk menjelaskan detail kredit perseroan dalam perspektif jangka panjang. Langkah ini diambil agar peringkat kredit bank bisa dipertimbangkan kembali.

“Kita biasanya berdiskusi sangat mendetail dengan mereka. Mereka itu biasanya memperhatikan rencana jangka panjang, sebesar 5 hingga 10 tahun. Banknya seperti mana situasi. Nah, sehingga mereka akan mengevaluasi dengan metode tertentu,” ujar Nixon saat menyambut pers di Menara BTN, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Nixon menekankan pengaruh penurunan peringkat terhadap pinjaman luar negeri serta instrumen investasi korporasi, seperti obligasi atau surat utang yang disalurkan di pasar internasional.

“Kalau bersifat asing, biasanya karena kita punya pinjaman atau instrumen yang keluar atau dibeli di luar negeri. Hal ini memerlukan rating,” menjelaskan Nixon.

Sebelumnya, Nixon mengungkapkan bahwa peringkat kredit korporasi yang rendah akan mempersulit daya tarik obligasi. Karena, peringkat kredit negara biasanya menjadi referensi utama untuk rating korporasi.

“Kalo negara sebelumnya Baa2 turun ke Ba2, atau BBB ke BB, maka rating korporasi akan sesuai. Maka, saat naik atau turun, tawaran-menawaran surat utang akan lebih mahal,” katanya.

Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia karena risiko penurunan kepastian kebijakan. Meskipun demikian, peringkat utang jangka panjang tetap Baa2. Hal ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil, mendukung kekuatan struktural seperti sumber daya alam dan demografi yang menarik.

Tidak tiba-tiba, outlook yang diubah dipengaruhi oleh penilaian Moody’s terhadap risiko kebijakan. Kalo berlanjut, ini bisa memengaruhi kinerja ekonomi nasional.

Pemuda Indonesia, dengan faktor-faktor internal yang kuat, perlu tetap fokus pada kebijakan yang stabil. Krisis kredit internasional mengingat kebutuhan untuk menjaga kepercayaan investor.

Pemimpin perbankan diharuskan memperluas strategi mengelola risiko kredit. Misalnya, diversifikasi pelanggan pinjaman atau meningkatkan transparansi keuangan.

Bahan-bahan seperti data riset terbaru tentang tren rating kredit atau studi kasus bank yang mengalami dampak negatif bisa ditambahkan. Grafik atau infografis yang menunjukkan hubungan antara rating dan biaya pinjaman juga akan memperkuat pemahaman.

Mengapa ratian kredit ini bisa jadi peluang bagi Indonesia? Krisis ini bisa menjadi moment untuk membangun kepercayaan dengan peningkatan profesionalisme dan transparansi. Jika pemerintah dan bank berkoordinasi, dampak negatif bisa dikejar.

Dari hal ini, penting untuk mengejar kebijakan yang konsisten. Krisis ini tidak hanya tentang angka, tapi juga tentang kepercayaan dalam sistem ekonomi.

Pemuda Indonesia harus tetap jadi contoh di Asia Tenggara. Dengan stabilitas politik dan pengelolaan kredit yang cerdas, kita bisa kembali ke peringkat yang lebih tinggi.

Banyak negara lain mengalami penurunan rating, tapi yang bisa mengaturnya adalah elastisitas ekonomi. Indonesia bisa jadi model jika fokus pada pembangunan yang inklusif.

Teruskan diskusi dengan lembaga rating seperti Moody’s. Kolaborasi lebih dekat bisa memberikan solusi praktis.

Dampak negatif ini bisa jadi pengingat bagi pemerintah. Kita harus menghindari kebijakan yang mengacaukan kepercayaan investor.

Kita juga bisa manfaatkan krisis ini untuk inovasi di sektor perbankan. Misalnya, produk pinjaman yang lebih aman atau teknologi fintech yang mendukung risiko kredit.

Dari semua hal ini, pesan utamanya adalah: stabilitas kebijakan bukan hanya soal keuangan, tapi juga tentang keberlanjutan ekonomi nasional.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan