Pemulihan Pascabencana: Mendagri-BPS Diskusi Dashboard Data Tunggal

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian sebagai Kepala Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi Pasca-Bencana Sumatera, berdiskusi tentang cara mempercepat pemulihan dengan dashboard data. Diskusi ini dilakukan saat Mendagri menerima pejabat Badan Pusat Statistik (BPS) bersama timnya di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta. Tito meng Ungkapan bahwa BPS telah menyusun data lengkap terkait kondisi wilayah terkena bencana. Pendukungan data tersebut berasal dari survei langsung tim BPS di lokasi bencana.

BPS mengklamer dashboard data tunggal sebagai alat kunci untuk menyatukan perspektif berbagai kementerian. Tito menekankan kebutuhan ini untuk membagi tugas dan memantau perkembangan pemulihan secara objektif. Sebagai contoh, dari 52 kabupaten atau kota terpengaruh, pemerintah fokus pada 10 daerah prioritas. Daerah seperti Agam, Padang Pariaman, dan beberapa wilayah Aceh ditetapkan karena dampaknya parah.

Tito menjelaskan target pemulihan ke kondisi fungsional kembali, seperti pasar dan sekolah, dalam dua bulan jika kerjaan terkoordinasi sempurna. Namun, untuk kondisi permanen, seperti infrastruktur jembatan atau sekolah yang hancur, waktu yang diperlukan bisa lebih lama—hingga dua tahun. Perbandingan ini diambil dari pengalaman Aceh pasca tsunami, dimana pembangunan infrastruktur permanen memakan waktu hingga lima tahun.

Amalia Adininggar, Kepala BPS, mengungkap dashboard ini membutuhkan kerja sama kuat dari berbagai lembaga. Data ini digunakan untuk memastikan bantuan mencapai tujuan tepat. Tim yang terlibat juga mencakup Wakil Direktur Jenderal Dukcapil dan pejabat BPS lainnya.

Dashboard data tunggal ini membantu menggabungkan informasi bervariasi, memastikan respons cepat terhadap kebutuhan. Sisipan, kolaborasi antarlembaga menjadi kunci agar sistem ini efektif. Data real-time juga meminimalkan duplikasi tenaga dan memprioritaskan area terpengaruh.

Tingkatkan kerjasama antarpenghuni bencana penting untuk mempercepat pemulihan. Dengan dashboard, pemerintah dapat menilai kondisi secara objektif dan menyesuaikan strategi. Hal ini tidak hanya mempersingkat waktu rehabilitasi, tetapi juga mempermudah alokasi sumber daya.

Pemuda dan teknologi data perlu diperkuat agar sistem pemulihan lebih presisi. Dashboard yang terintegrasi dengan laporan lapangan bisa menjadi referensi untuk bencana masa depan. Fokus pada areas kritis juga membantu mengelola risiko dengan lebih efisien.

Pemulihan pasca-bencana bukan cuma tentang membangun kembali, tetapi juga membangun ketahanan. Dashboard data tunggal adalah contoh inovasi yang bisa diterapkan di daerah lain. Proses ini membuktikan bahwa kolaborasi dan teknologi bisa berdampak signifikan dalam mengatasi bencana.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan