MBG, Perkembangan Gentengisasi, dan Pembelajaran Kualitas

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Program pemberian makanan bergizi gratis (MBG) yang telah dipersembahkan di beberapa sekolah melayani kebutuhan nutrisi anak, yang memainkan peran penting dalam mempersiapkan tubuh mereka untuk proses belajar. Penggasan gizi yang terpenuhi tidak hanya memperkuat energi fisik, tetapi juga membantu menjaga kestabilan emosi serta konsentrasi during aktivitas belajar. Namun, manfaat ini tidak sepenuhnya berdampak jika proses belajar sendiri tidak didukung oleh pengalaman yang mendasar dan berkelanjutan.

Kondisi lingkungan rumah, seperti keamanan, suhu yang mengontrol, dan stabilitas psikologis, juga mempengaruhi kesiapan belajar. Pasir besi seperti gangguan berventan, kejam, atau ketidaknyamanan ruang tinggal dapat mengganggu istirahat dan rasa aman, yang dihasilkan ketegangan psikologis pada siswa dan orang tua. Meskipun MBG dan gentengisasi menjadi langkah komitmen pemerintah, kualitas belajar tergantung pada bagaimana pengalaman ini diolah oleh guru.

Guru menjadi faktor kunci dalam mengubah fondasi yang telah disiapkan menjadi proses pembelajaran berkualitas. Namun, tanpa kebutuhan dasar seperti kesetiaan, kesejahteraan, dan penghargaan profesional, tubuh psikologis mereka bisa tertekan. Ketegangan batin yang terus-menerus sering kali memicu keterbatasan dalam berkegiatan mengajar, seperti kurangnya kreativitas pembelajaran atau kesabaran dalam membantu siswa. Dampaknya bisa berujung pada pengurangan motivasi dan keterlibatan emosional guru, yang poros pada kualitas pengalaman belajar.

Bayangkan situasi di mana guru merasa tidak dihargai secara manusiawi, dihadapkan pada beban kerja yang tidak proporsional, atau tidak memiliki kesabaran untuk merancang pembelajaran yang bermakna. Hasilnya bukan karena kurangnya talent, tetapi karena energi psikis mereka habis untuk membangun hubungan yang mendalam dengan siswa. Jika ini terus berlangsung, fondasi MBG dan gentengisasi akan kehilangan potensi untuk berubah menjadi pembelajaran berkelas yang konsisten.

Pemerintah perlu memastikan kebijakan mendukung gugatan guru dengan memberikan ketenangan kerja, kesetiaan, dan pengakuan profesional. Ini bukan sekadar isu sektoral, tetapi prasyarat sistemik bagi pembelajaran yang bermakna. Guru yang merasa aman, dihargai, dan mampu hadir sepenuhnya adalah kunci utama agar fondasi yang telah disiapkan bisa terolah menjadi pengalaman belajar yang nyata.

Dengan pendekatan ini, MBG dan gentengisasi bisa menjadi lebih dari sekadar program sosial. Mereka bisa menjadi simbol komitmen negara untuk mendukung setiap anak meraih kesempatan belajar optimal. Namun, keberhasilan tidak bisa tercapai hanya dengan kebijakan, tapi juga dengan dukungan yang sebenarnya diberikan kepada mereka yang mendidik setiap hari.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan