Deflasi RI di Januari: Sinyal Baik atau Bahaya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Indonesia mencatat deflasi bulanan pada Januari 2026 sebesar 0,15% dibandingkan Desember 2025, sesuai data BPS. according to Minister of Home Affairs Tito Karnavian, hal ini terjadi karena aktivitas ekonomi masyarakat kembali ke norm setelah liburan dan hari raya yang intens di bulan Desember.

Tito menjelaskan, kenaikan harga di Desember yang tinggi karena aktivitas seperti liburan, pembelian perhiasan, dan kinerja pasar yang dinamis. Namun, di Januari, transaksi menjadi lebih stabil, sehingga harga-harga turun. “Harga-harga barang dan jasa terkendali karena masyarakat tidak lagi berbelanja berlebihan seperti masa liburan,” kata Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi.

Data menunjukkan beberapa kategori yang mengalami penurunan harga. Makanan, minuman, dan tembakau mengikuti deflasi minus 0,30% karena dampak supply-demand pasar. Hal ini menjadi penyumbang utama turunnya inflasi bulanan. Sebaliknya, kategory perawatan pribadi dan jasa lain meningkat sebesar 0,16% karena gejolak harga perhiasan.

Tito merujuk pada kenaikan harga emas di pasar global sebagai penyebab kenaikan harga perhiasan. “Emas dianggap cadangan aman, sehingga permintaan meningkat, memicu gejolak harga,” tegasnya.

Hasil ini dianggap baik karena memungkinkan masyarakat mengakses barang dan jasa dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, Tito meminta peneliti dan pemerintah tetap memantau tren ini agar tidak berujung pada deflasi berlebihan yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Bangun ekonomi Indonesia memerlukan keseimbangan. Deflasi bisa memberikan keuntungan bagi konsumen, tapi perlu dirawat dengan strategi yang tepat. Monitoring data harga secara konsisten menjadi kunci untuk memastikan stabilitas harga tanpa mengabaikan dampak jangka panjang.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan