Diky Candra: Wakil yang Tidak Memiliki “Tanduk” yang Berkepentingan untuk Pemkot Kompak Tasikmalaya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Diky Candra, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, menyatakan bahwa postingan motivasi yang sering ia bagikan di media sosial tidak bertujuan untuk syarat politik, melainkan untuk menyampaikan pesan moral seputar kemandirian, rasa syukur, dan etika hidup. “Ini sudah lama menjadi kebiasaan saya,” ujarnya. “Saya memanfaatkan media sosial untuk berbagi isi inspiratif yang semoga dapat memicu perubahan positif, terutama bagi teman-teman dekat.”

Beberapa postingan yang ia unggah berisi nilai tentang kerja keras dan penghargaan terhadap diri sendiri. Salah satunya menyebut, “Kemandirian adalah bagian dari syukur nikmat, karena masa depanmu ada di tanganmu, masa depanaku ada di tanganku.” Ia juga mengajak masyarakat untuk memperhatikan nilai rezeki yang diperoleh sendiri. “Uang 100 rupiah hasil kerja keras jauh lebih berharga ketimbang satu juta hasil minta-minta, apalagi hasil nyolong. Mari hargai diri sendiri,” katanya.

Diky menambahkan bahwa kebahagiaan tidak diukur dari seberapa besar harta yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar rasa syukur terhadap apa yang dimiliki. “Bahagia tidak muncul dari besar yang kita miliki, tapi berapa besar rasa syukur kita atas apa yang kita miliki,” tulisnya.

Ia juga memperingatkan akan gejala “kemiskinan hati” yang memicu sereka, hasut, dan penyakit sosial lainnya. “Miskin harta kita wajib bekerja dan berusaha. Miskin hati melahirkan diri yang serakah, hasut, dan ragam penyakit hati. Semoga Tuhan melindungi kita dari ragam penyakit hati,” konklusinya.

Diky mengakui, jika postingannya diartikan salah oleh publik, ia siap menghentikan kebiasaan tersebut. “Kalau salah arti, Insyaallah saya hentikan,” katanya sambil tertawa.

Terkait isu pengaduan domba terhadap pimpinan daerah, Diky menolak relevansi hal tersebut. “Kebijakan hanya ada di kepala daerah, sekda, dan SKPD pengguna anggaran. Percuma diadu domba. Wakil di seluruh Indonesia tidak punya tanduk untuk diadu,” ujarnya dengan nada sarkasmatik.

Isi motivasi Diky Candra menegaskan bahwa media sosial bisa menjadi alat untuk menyebarkan nilai positif tanpa memicu konflik politik. Fokusnya pada pesan moral yang universal, seperti syukur dan keterampilan hidup, menjadi solusi untuk menghadapi tantangan sosial modern. Pengalamannya menegaskan bahwa kesederhanaan dan kebaikan hidup bisa ditemukan dalam praktik harian, bukan dalam kemenangan politik atau pertukaran nilai.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan