Pandji Pragiwaksono Mengikuti Ujian ‘Mens Rea’ di Lusa, Detik Polisi Mencari Fakta

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Badan Keamanan Jakarta menetapkan jadwal pemeriksaan terhadap komika Pandji Pragiwaksono pada Jumat, 6 Februari 2026. Pemerintah akan mendalami isu yang diajak oleh para pelapor terkait konten ‘stand-up comedy’ ‘Mens Rea’.

“Kami telah persiapkan pertanyaan terkait esensi isu tersebut, yang terkait dengan pertanyaan yang disampaikan oleh Pandji. Hasil keterangan dari pihaknya akan menjadi dasar proses ini,” kata Iman, ketua pemeriksaan Polda Metro Jaya.

Pandji telah mengakui kehadiran untuk diperiksa. Penyelidikan ini masih melibatkan enam laporan, termasuk satu dari Majelis Pesantren Salafiyah yang diwakili oleh kiai Sudirman.

Matin menjelaskan, konten Pandji yang dianggap tidak pantas adalah narasi tentang individu yang tidak pernah salat, apakah itu berarti orang baik. Ia berpendapat bahwa materi ‘Mens Rea’ Pandji menyebut tidak mengakses ajaran agama.

Pandji juga terlibat dalam dugaan pencucian wajah di muka umum dan klaim penilaian agama terkait pernyataannya dalam ‘Mens Rea’. Laporan ini disampaikan oleh Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) dan Aliansi Muda Muhammadiyah.

Pelapor berpendapat konten tersebut memicu konflik sosial. Polda Metro Jaya telah memeriksa ahli dan saksi untuk memvalidasi klaim. Proses ini sudah diatur dengan nomor LP/B/567/SPKT/POLDA METRO JAYA.

Pandji mengakui bersedia menghadapi proses hukum. “Saya akan menyelesaikan hal ini dengan penuh tanggung jawab. Jika diperlukan, saya akan berdialog dengan pihak yang berkepentingan,” ujarnya di MUI Pusat Jakarta.

Pandji menekankan bahwa ‘Mens Rea’ dibuat untuk menghibur, bukan dengan niat menipu. Ia mengatakan kontennya mencerminkan keangin masyarakat, bukan persyaratan pribadi.

Studi terkini menunjukkan bahwa konten komedi yang menyentuh isu agama bisa memicu perdebatan yang kritis. Contohnya, konten yang mengkritik atau mempengaruhi persepsi agama umumnya memicu reaksi yang beragam di kalangan masyarakat.

Masa depan komedi di Indonesia memerlukan kesepakatan yang lebih harmonis, di mana kebebasan ekspresi bersamasama dengan ketertiban sosial. Pendampingan positif dari komunitas baik-baik bisa menjadi kunci untuk memastikan konten kreatif tetap menghibur tanpa merugikan nilai-nilai sosial.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan