Krakatau Steel berhasil hemat Rp 12 juta per bulan setelah pabrik blast furnace disetop.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menghentikan operasinya pabrik Blast Furnace. Langkah ini meliputi usaha penurunan biaya operasional sebesar Rp 12 miliar per bulan, seperti dimaksudkan oleh Dony Oskaria, COO perusahaan. Keputusan shutdown ini merupakan syarat yang diketahui dan diterima oleh KRAS untuk mendukung penyaluran dana modal kerja.

Dony menjelaskan, setelah menjadi COO Danantara, ia memimpin restrukturisasi Krakatau Steel. Pada saat itu, kondisi perusahaan sempat rentan dengan HSM yang terbakar, Blast Furnace tidak beroperasi, dan utang melebihi Rp 25 triliun. Strategi penyelamatan mencakup perbaikan HSM pada Desember 2024, negosiasi ulang hutang dengan KRAS, serta penurunan nilai utang melalui kolaborasi tim dan Dirut.

Proses negosiasi hutang melibatkan penurunan bunga dari vendor financing yang sebelumnya mencapai 30%. Danantara menggantikan pendanaan tersebut dengan pinjaman berbunga rendah berbasis serah order, yang memungkinkan perusahaan mempersatui biaya tetap. Dony menekankan, pinjaman tersebut tidak segera diberikan, tetapi setelah analisis mendalam terhadap model bisnis KRAS yang dianggap stabil.

Langkah-langkah ini bertujuan mengoptimalkan keuangan dan memastikan bisnis dapat berjalan kembali. Sebagainofollow, ini menunjukkan cara perusahaan menyesuaikan dengan tantangan finansial melalui restrukturisasi dan pendanaan strategis.

Kondisi industri baja terus menghadapi tekanan biaya produksi. Perlu diperhatikan bagaimana perusahaan lain mengatasi beban hutang atau penurunan modal kerja. Adaptasi terhadap dinamika pasar dan pengelolaan risiko menjadi kunci agar bisnis tetap kompetitif dalam masa mendatang.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan