Kisah Ibu Menedung Anak Memilih-Memakan, Berat Badan Stagnan Hingga 3-4 Bulan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Orang tua banyak yang menghadapi tantangan baru dalam pengalaman menyajikan makanan kepada anak di bawah lima tahun. Perubahan kebiasaan makan anak yang dulu konsisten sekarang seringkali berupa penolakan terhadap lauk tertentu, pencapaian gaya tertentu saat makan, atau bahkan menutup mulut secara mandiri. Fenomena ini biasanya muncul ketika anak memasuki fase eksplorasi lingkungan dan mulai mengekspresikan preferensinya.

Di sisi lain, curah air badan anak seringkali tetap stabil tanpa kenaikan berarti atau turun. Grafik pertumbuhan mungkin terlihat datar, mengikuti pola sebelumnya (TSBB). Kondisi ini membuat orang tuanya meraguk pada keadilan asupan gizi anak dan optimalisnya perkembangannya.

Viany (29), ibu satu anak usia 2,5 tahun, mengajak via Thecuy.com mengungkapkan bahwa anaknya mulai mengalami gerakan tutup mulut sejak usia 1,5 tahun. Tantangan ini memicu kesulitan dalam proses makan, termasuk stunting berat badan yang tidak terukur. “BB-nya stagnan banget selama 4 bulan. Nambah se-gram pun susah banget,” kata Viany.

Upaya seperti memperbaiki menu dengan protein, mengatur jadwal makan teratur, serta saringan dengan dokter tidak langsung memberikan solusi. Viany juga mencoba menarik anak dengan aktivitas fisik sebelum makan, seperti ajakan berenang atau main, sebelum memaksa sambil makan. Namun, selektivitas anak tetap ada, terutama terhadap makanan dengan bumbu kuat.

Para ahli gizi dan dokter anak memberikan saran serupa: konsisten dengan aturan makan yang teratur (feeding rules), meningkatkan asupan protein, dan menyadari sinyal lapar anak. Dr. Meta Herdiana dari UNAIR menyajikan penelitian IDAI yang menunjukkan GTM sering disebabkan oleh kebiasaan makan yang tidak tepat, bukan masalah medis utama. Dr. Damayanti dari UI juga menekankan bahwa anak usia 1-3 tahun yang terlalu selektif dalam makanan berisiko kekurangan nutrisi.

Feeding rules mencakup waktu makan maksimal 30 menit, jadwal teratur sesuai pengosongan lambung, serta mengajari anak mengenali kenyang secara mandiri. Jika kondisi tidak berubah dalam dua-tiga minggu, konsultasi ke dokter tetap diperlukan.

Orang tua harus tetap sabar dan konsisten dalam menerapkan aturan makan. GTM bukan masalah fatal, tapi memerlukan kesadaran dan strategi yang tepat. Selama ini, Viany belajar menyesuaikan menu dengan selera anak dan masih terjun dalam eksperimen, seperti membuat roti isi telur atau es krim ubi. Untuk orang tua lain, penting untuk mengingat bahwa pengadilan terhadap kekurangan nutrisi bisa menimbulkan dampak jangka panjang, termasuk penurunan IQ. Solusi mendesak adalah memprioritaskan kebiasaan makan yang sehat sejak dini, tanpa memalas atau panik.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan