Wanita Nyesal Karena Jalani Oplas Miss V dan Efek Sampingnya Ngeri

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Seorang wanita mengungkapkan kesedihannya setelah melakukan operasi yang sering disebut ‘designer vagina’. Prosedur ini bertujuan mengubah bentuk atau fungsi area genital, sehingga lebih rapi dan estetis.

Riley Smith, seorang wanita berusia 22 tahun, mengakui bahwa ia merasa tidak percaya diri dengan ukuran bibir vaginanya sejak lama. Tekanan dari teman-temannya mendorongnya untuk melakukan operasi. Namun, dokter tidak memberikan penjelasan mendetail tentang risiko yang mungkin terjadi.

Prosedur labiaplasty yang dilakukan mengurangi ukuran labia minora, bagian kulit mengelilingi uretra dan vagina. Smith menyatakan ia ingin menjalani ini sejak usia 14 tahun. Namun, pasca operasi, ia mengalami berbagai masalah seperti lelah ekstra, kelelahan, dan aktivitas seksual yang menyakitkan secara fisik dan emosional.

Komplikasi meliputi iritasi, kekeringan, serta infeksi berulang. Smith juga membutuhkan perawatan jangka panjang untuk penyembuhan. Ia bersedih karena pengalaman ini, serta merasa marah mengapa prosedur ini dipromosikan dengan cara sembarangan sebagai solusi untuk kepercayaan diri seksual atau kebersihan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan FGM (mutilasi genital perempuan) sebagai pengangkatan genital eksternal atau cedera tanpa alasan medis. Prosedur ini, sesuai dengan Smith, mirip teknik yang dilakukan pada korban FGM.

Risiko operasi meliputi perdarahan, hematoma, serta reseksi berlebihan. NIH mendefinisikan kondisi ini sebagai pengangkatan berlebihan jaringan atau tulang di area genital.

Wanita sering memilih operasi karena berbagai alasan, termasuk rasa sakit akibat labia terpelintir atau gatal. Namun, komplikasi pasca operasi bisa sangat serius.

Smith terang bahwa dokter pernah membahas prosedur rekonstruksi dengan teknik serupa. Namun, pengalaman negatifnya membuatnya berbalik-balikkan keputusan tersebut.

Pilihan medis harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Konsekuensi operasi estetis bisa jauh lebih membingungkan daripada harapan awal.
Prosedur yang sering disebut ‘designer vagina’ melibatkan penyewaan bedah untuk mengubah bentuk atau fungsi area genital. Proses ini dirancang agar lebih rapi dan menarik secara visual.

Wanita bernama Riley Smith mengungkapkan bahwa ia merasa tidak percaya diri dengan ukuran bibir vaginanya. Tekanan dari teman-temannya mendorongnya untuk melakukan operasi. Namun, dokter tidak menjelaskan secara lengkap risiko yang mungkin terjadi.

Prosedur labiaplasty bertujuan mengurangi ukuran labia minora, bagian kulit yang mengelilingi uretra dan vagina. Smith menyatakan bahwa ia ingin menjalani ini sejak usia 14 tahun. Namun, pasca operasi, ia mengalami berbagai masalah seperti lelah ekstra, aktivitas seksual yang menyakitkan, serta infeksi berulang.

Komplikasi meliputi iritasi, kekeringan, dan gangguan fisik yang memerlukan perawatan jangka panjang. Smith juga merasa marah kepada sistem kesehatan karena promosi prosedur ini tanpa informasi lengkap.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan FGM (mutilasi genital perempuan) sebagai pengangkatan genital eksternal atau cedera tanpa alasan medis. Prosedur ini, seperti yang dilakukan pada Smith, mirip teknik yang digunakan pada korban FGM.

Risiko operasi meliputi perdarahan, hematoma, serta reseksi berlebihan. NIH mengidentifikasi kondisi ini sebagai pengangkatan berlebihan jaringan atau tulang di area genital.

Wanita sering memilih operasi karena berbagai alasan, termasuk rasa sakit akibat labia terpelintir atau gatal. Namun, komplikasi pasca operasi bisa jauh lebih serius daripada harapan awal.

Pengalaman negatif ini membuat Smith berbalik-balikkan keputusan. Ia sangat sedih karena prosedur ini tidak memberikan manfaat yang diharapkan.

Kesannya menunjukkan bahwa keputusan medis harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Konsekuensi operasi estetis bisa jauh lebih membingungkan daripada harapan awal.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan