Nasib Nikel RI dalam Persaingan Teknologi Baterai yang Ketat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Indonesia Battery Corporation (IBC) mengklaim baterai berbasis nikel memiliki potensi bersaing dengan LiFePO4 di pasar global. Hal ini dipengaruhi oleh peningkatan permintaan baterai NMC yang terus meningkat. Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menjelaskan tekanan pada teknologi NMC tidak berasal dari penurunan permintaan, tetapi dari perkembangan skala pasar baterai dunia yang semakin luas.

“Meski pasaran NMC tetap berkembang, kita tetap optimis dalam memasarkan produk baterai berbasis nikel,” kata Aditya saat rapat dengan Komisi XII DPR RI. Teknologi sodium-ion battery, yang dimaksudkan menggantikan lithium dengan natrium, juga memanfaatkan katanoda berbasis nikel, besi, dan mangan sebagai komponen utama.

Pengembangan solid state battery, teknologi alternatif lain, juga memerlukan material nikel sebagai elemen fundamental. Aditya berpendapat bahwa keunggulan IBC di pasar global sangat bergantung pada biaya produksi. Negara tidak boleh hanya mengandalkan fluktuasi harga nikel, tetapi harus mengoptimalkan efisiensi industri untuk menjaga kompetitivitas produk.

“Kita perlu fokus pada inovasi untuk mengurangi biaya produksi melalui pemotongan rantai industri,” menyimpulkan Aditya.

Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi pemegang strategis nikel di teknologi baterai terbaru. Dengan investasi pada penelitian dan pengembangan, serta kolaborasi antarindustri, negara bisa memanfaatkan bahan baku nikel yang kaya untuk mendukung transisi energi terbaru. Kesiapan teknologi dan manajemen sumber daya akan menentukan keberhasilan Indonesia dalam menghadapi persaingan global.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan