Kesulitan Pemkab di Garut Mencari Lahan untuk Pembangunan Sekolah Rakyat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Sekolah Rakyat Rintisan di Garut telah mulai beroperasi sejak September 2025. Pendampingannya telah mengikuti proses pembelajaran secara teratur. Program ini dirancang untuk membantu anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi terpinggirian.

Sistem pendidikan yang ditawarkan gratis mencakup berbagai fondasi pendidikan. Mulai dari sekolah dasar hingga tingkat SMA. Strukturnya mengadopsi konsep asrama yang memfokuskan pada kualitas pendidikan tanpa beban biaya.

Sekarang, di lokasi Rintisan, jumlah peserta mencapai 75 orang. Mereka dibagi menjadi tiga kelas. Dua kelas yang berfokus pada SMP dan satu kelas untuk SD. Rencana masa depan mencakup pengembangan sekolah permanen yang targetnya 1.000 siswa. Proses ini terus dilakukan hingga awal tahun mendatang.

Sebagai penyeji, Nurdin Yana menjelaskan bahwa perencanaan tetap berjalan. Namun, kekurangan ruang lingkup masih menjadi tantangan utama. “Kami masih mencari solusi untuk mendapatkan lahan yang sesuai,” kata ia.

Pihak terkait terus berusaha meminta bantuan pemerintah pusat. Tujuannya adalah mendapatkan lokasi yang strategis untuk membangun sekolah rakyat permanen. Beberapa wilayah seperti Cisurupan, Banyuresmi, dan Samarang telah diproposikan. Namun, harga di Samarang belum memenuhi standar.

Masa depan sekolah ini memerlukan kolaborasi antarparti. Dengan pendanaan lebih luas, kemungkinan kesuksesan memperluas akses pendidikan bagi masyarakat miskin. Solusi alternatif lahan perlu ditingkatkan agar target 2026 dapat tercapai.

Pembangunan sekolah rakyat permanen tidak hanya menjadi solusi untuk kebutuhan pendidikan. Ia juga menjadi langkah penting untuk mengurangi kesenjangan akses belajar. Semua pihak harus bekerja sama untuk memastikan rencana ini berhasil.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan