Potret Rehabilitasi Kesehatan Mental ODGJ Mandiri di Tasikmalaya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Rumah Tua Jadi Tanda Manusia Pacar Kembali
Di Tengah Kecamatan Bungursari, Tasikmalaya, sebuah rumah tua di RT 01 RW 05, Kelurahan Sukalaksana, terus beroperasi. Bukan sebagai tempat kunjung, tapi sebagai pusat rehabilitasi bagi orang yang menderita gangguan jiwa, stres berat, hingga yang pernah terlibat pada pengabusan narkoba. Podan dengan nama Yayasan Darul Ihsan, fasilitas ini tidak memenuhi harapan untuk memandang raksasa, tapi tetap berjalan dengan ketat.

Dinasupaya rumah ini hanya dirawat oleh pasangan, Eli Kurniawati dan Iwan. Tanpa dukungan pemerintah atau struktur formal, mereka mengelola pengadilan dengan tenaga pribadi. Keberadaan Darul Ihsan tidak tercatat secara administratif, padahal mereka telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Sembilan orang saat ini dirawat di sana, termasuk empat yang menderita ODGJ. Mereka berasal dari berbagai daerah—Puspahiang, Bandung, hingga Bogor—dikerjakan oleh keluarga yang tidak mampu bantu. Seperti yang dijelaskan oleh Eli, sebagian besar penuntutnya adalah anak-anaknya yang tidak mampu merawat sendiri.

Bangunan ini bukan hasil dari proyek pemerintah, tapi merupakan warisan keluarga yang digunakan sejak dulu untuk merawat ODGJ. Tradisi itu terus dilanjutkan, bahkan tanpa dana atau infrastruktur terbaik.

Sumber dukungan hanya berasal dari penghasilan Iwan sebagai konektur antar kota. Pendapatan yang tidak stabil harus digunakan untuk membiayai kebutuhan keluarga dan perawatannya. Meski beban finansial pesat, Iwan tetap fokus pada tujuan utama: menjaga tidak terjadinya kekacauan pada orang yang dibantu.

Seperti yang dikatakan oleh Eli, “Kalau dihitung uang, pasti berat. Tapi sejak awal kami tahu dampaknya. Yang penting mereka tidak terlupakan.”

Jalan ini tidak mudah. Tanpa dukungan resmi, Darul Ihsan berjalan di jalur pendek. Namun, keberhasilan mereka tidak dikatakan hanya dari kemudahan, tapi dari keberanian untuk terus berjuang.

Analisis dan Penawaran
Rumah tua yang berfungsi sebagai pusat rehabilitasi seperti ini menegaskan keberadaan kelemahan sistem sosial. Meski pemerintah fokus pada program kesehatan mental, banyak kemasan yang dilakukan secara komunitas tetap terlupakan. Darul Ihsan adalah contoh sebenarnya bagaimana solidaritas keluarga bisa menjadi solusi alternatif. Namun, tanpa dukungan infrastruktur atau kebijakan, risiko keterbatasan layanan tetap tinggi.

Penutup
Cerita dari Darul Ihsan mengingatkan bahwa kebaikan masyarakat bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga keanggotaan kita. Setiap orang bisa mulai dari hal kecil untuk mendukung orang terlupakan. Jangan biarkan tujuan baik seperti ini tertinggal karena tidak ada dukungan. Setiap usaha, sekecil apa pun, bisa menjadi langkah besar untuk masyarakat yang lebih inklusif.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan