Review Film Istri dari Masa Depan (SPOILER)

Saskia Puti

By Saskia Puti

Review Film Istri dari Masa Depan (SPOILER)

Film Sore: Istri dari Masa Depan bukan sekadar cerita jatuh cinta yang santai. Ia menggambarkan konsekuensi penundaan, baik dalam hubungan maupun keputusan sehari-hari. Film ini memanfaatkan konsep istri dari masa depan bukan sebagai element fantastis, melainkan sebagai simbol untuk menyoroti bagaimana kesalahan kecil dapat menumpahkan dampak besar.

Jonathan, tokoh utama, mengacu pada gaya hidup yang berantakan. Ia tidak jahat, tetapi juga tidak berusaha melancarkan diri. Namun, kehidupannya berubah ketika ia bertemu Sore, wanita yang memang adalah istri masa depannya. Sore memasuki hidup Jonathan dengan suasana tenang, bukan dengan kejahatan, tapi dengan kelelahan emosional yang sudah menggulung. Sebuah perjalanan keduanya awalnya terasa aneh, tapi seiring waktu, keberadaan Sore membuktikan fakta yang hanya ia sendiri tahu.

Konflik dalam film ini tidak terletak pada perbedaan waktu, melainkan pada sikap passif Jonathan. Sore tidak datang untuk mengubah kebijaksanaan besar, melainkan untuk menunjukkan bahwa peradangan terhadap kesempatan kecil atau attitude apasif pun bisa merusak hubungan. Pergerakan film ini cepat, dengan dialog sederhana tapi bermakna. Istilah seperti “tidak ingin berubah” atau “menunda lagi” ternyata menjadi inti konflik batin tokoh utama.

Karakter Sore menarik karena tidak sempurna. Ia bukan penyelamat, tapi juga tidak berani mengembara. Kehasilannya berasal dari kelelahan berlebihan setelah menunggu langkah positif. Kelemahan emosionalnya menjadi pesan penting: hubungan sering kesulitan bukan karena kekurangan cinta, melainkan karena seseorang terus-menerus menunda untuk berubah.

Akting dalam film ini terasa realistis. Para aktor menawarkan performa yang natural, tanpa emosi berlebihan. Kemudianan mereka, kesempatan untuk merenung, atau bahkan siletensi mereka memungkinkan penonton merasakan emosi yang mendalam. Chemisiraman antara Jonathan dan Sore terasa nyata, padahal hubungan mereka awalnya terlihat harmonis, kemudian berubah menjadi melelahkan.

Alur cerita film ini membutuhkan kesabaran. Tidak ada dramatisme yang mendahului, tapi pemantauan yang perlahan dengan fokus pada momen kecil. Perkembangan hubungan tidak terburu-buru, tapi diakui. Peran Sore yang tiba-tiba muncul dan kemudian meninggalkan Jonathan bikin penonton merasa mengira. Apakah ini realitas, metafora, atau refleksi?不.Entity.

Akhir film menegakkan pesan yang tidak menyempurnakan. Sore tidak kembali untuk “menyelamatkan” hubungan, melainkan merusak atau meninggalkan Jonathan dengan kesadaran. Endingnya tidak memberikan solusi, tapi mengajak penonton untuk memikirkan bagaimana cara mereka memproses perubahan. Film ini tidakборобот pergunta bentuk ketemu di masa depan, tapi memberi kesempatan untuk merenung.

Kelemahan utama film ini adalah tempo yang lambat. Sebuah pendekatan ini bisa menjadi kebiasaan bagi penonton yang ingin kecepatan, tapi justru membantu menyampaikan pesan bahwa perubahan membutuhkan waktu. Banyak hubungan yang gagal karena seseorang tidak mau berusaha, bukan karena kurang cinta.

Selaku penutup, film Sore: Istri dari Masa Depan menawarkan pengalaman unik. Ia tidak menawarkan kepuasan instan, tapi menciptakan ruang untuk refleksi. Pesannya tentang konsekuensi kelemahan emosional dan keberanian untuk berubah tetap relevan. Jika kamu mencari film yang bikin kamu ngerasain, film ini sangat layak ditonton.

Film ini mengingatkan bahwa hubungan bukan hanya tentang cinta, tapi juga tentang ketidaktatan untuk berubah. Cinta bisa menjadi bahan baku, tapi tanpa aksi, ia tidak bakal mengubah realitas.

Baca juga games lainnya di Info game terbaru atau cek review mobile legends lainnya.

Tinggalkan Balasan