Curah Hujan Berkepanjangan di Pramono Kebut, Kali Cakung dan Ciliwung Masuk Fase Normalisasi

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memutuskan kembali melakukan perbaikan pada Kali Cakung Lama dan Sungai Ciliwung sebagai strategi utama untuk menekan banjir di kota. Keputusan ini dirancang untuk menyesuaikan dengan curah hujan yang diperkirakan tetap tinggi hingga awal Desember, sesuai pencapaian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa penanganan banjir di wilayah sensitif akan dikebutkan lebih cepat. “Mengingat curah hujan yang masih tinggi, kami mempercepat proses normalisasi pada Kali Cakung Lama dan Kali Angke,” ujarnya setelah memimpin rapat terbatas di Balai Kota.

Untuk normalisasi Kali Cakung Lama, pemerintah provinsi fokus pada pembangunan tanggul atau turap. Sedangkan untuk Sungai Ciliwung, tugas dibagi dengan Kementerian PUPR. Pramono menekankan bahwa lahan di sepanjang sungai harus dibersihkan dan dilanjutkan dengan infrastruktur tanggul agar proses normalisasi lebih efektif.

Sebagai solusi tambahan, pemerintah DKI juga menyepakati pembangunan Waduk Polor di Bendung Polor, Kali Angke. Embanking ini bertujuan mengelola debit air hujan sehingga tidak semuanya mengalir langsung ke Cengkareng Drain. “Ini akan membantu mengurangi lahan yang tersumbang ke arus banjir,” menjelaskan Pramono.

Anggaran untuk proyek ini dinamis karena merupakan program jangka menengah. Namun, pemerintah provinsi memastikan dana sudah disiapkan. Untuk bulan Februari, kebutuhan dana mencapai 132 miliar rupiah, yang telah disetujui.

Proses normalisasi Kali Cakung Lama sudah mulai berlangsung di beberapa segmen. Namun, bagian di Cilincing masih menjadi pembatasan (bottleneck) dan menjadi prioritas dalam APBD Perubahan. Pramono mengakui anggaran untuk area tersebut sudah disetujui, meski perlu diselesaikan segera.

Langsung dari keesokan, masyarakat di wilayah berisiko banjir diminta untuk tetap menjaga kebersihan daerah. Pemerintah juga mengajak partisipasi umum dalam memantau kondisi curah hujan melalui aplikasi BMKG.

Penanganan banjir di Jakarta memerlukan kerja sama antarpegawaian dan ketangguhan masyarakat. Dengan langkah proaktif seperti normalisasi sungai dan pembangunan infrastruktur, risiko banjir dapat dikurangi. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga pertanggungjawaban bersama bagi seluruh warga kota.

Masa depan Jakarta dalam menghadapiBanjaran memang dipengaruhi oleh keputusan yang diambil sekarang. Langkah-langkah ini membuktikan komitmen pemerintah untuk melindungi rakyat. Semoga usaha ini cukup untuk menjaga ketenangan kota di tengah curah hujan yang terus meningkat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan