WHO Sesalkan AS Keluar dari Keanggotaan, Sebut Dunia Jadi Kurang Aman

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari keanggotaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disambut dengan penyesalan mendalam oleh badan kesehatan global tersebut. Sebagai salah satu pendiri WHO, AS telah memainkan peran krusial dalam sejumlah pencapaian terbesar organisasi ini, mulai dari pemberantasan penyakit cacar hingga upaya memerangi ancaman kesehatan global seperti polio, HIV, Ebola, influenza, tuberkulosis, malaria, hingga isu keamanan pangan dan resistensi antimikroba.

WHO menegaskan bahwa langkah yang diambil oleh Negeri Paman Sam tersebut justru membuat situasi global menjadi lebih tidak aman. Pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu, 25 Januari 2026, ini juga menanggapi klaim AS yang menyalahkan WHO atas kegagalan penanganan pandemi COVID-19, termasuk tuduhan mengenai hambatan dalam penyebaran informasi yang akurat dan tepat waktu. Meskipun WHO mengakui bahwa tidak ada organisasi atau pemerintah yang sempurna dalam menangani krisis, mereka membela respons mereka terhadap pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. WHO menegaskan bahwa mereka bertindak cepat, transparan dalam membagikan informasi, dan memberikan rekomendasi berdasarkan bukti ilmiah terbaik yang tersedia.

Lebih lanjut, WHO menegaskan posisinya terkait kebijakan kesehatan masyarakat selama pandemi. Meskipun mereka merekomendasikan penggunaan masker, vaksinasi, dan menjaga jarak fisik, organisasi ini tidak pernah memaksakan kewajiban tersebut atau mewajibkan penguncian wilayah (lockdown). WHO menghormati kedaulatan setiap negara untuk membuat keputusan terbaik bagi rakyatnya tanpa intervensi paksa.

Menghadapi kritik mengenai kinerjanya, WHO telah mengambil langkah strategis untuk memperkuat sistem kerjanya guna meningkatkan kesiapsiagaan global menghadapi pandemi di masa depan. Sistem yang beroperasi 24 jam ini telah terbukti menjaga keamanan banyak negara, termasuk Amerika Serikat sendiri. WHO juga membantah keras tudingan AS bahwa mereka mengejar agenda birokrasi yang dipolitisasi oleh negara-negara yang bermusuhan dengan kepentingan AS. Sebagai badan khusus PBB yang diatur oleh 194 negara anggota, WHO menegaskan netralitasnya dan komitmennya untuk melayani semua negara tanpa pilih kasih. Di tengah ketegangan ini, WHO tetap menyampaikan harapan agar Amerika Serikat dapat kembali berpartisipasi aktif di masa mendatang, seiring komitmen WHO yang tak tergoyahkan dalam menjalankan misi mencapai standar kesehatan tertinggi sebagai hak dasar umat manusia.

Transformasi Sistem Kesehatan Global Pasca-Pandemi

Ketegangan antara Amerika Serikat dan WHO ini terjadi di tengah upaya global membangun arsitektur kesehatan yang lebih tangguh. Para pakar epidemiologi modern menyoroti pentingnya kolaborasi lintas batas negara dalam menghadapi ancaman biologis. Data terbaru dari berbagai studi menunjukkan bahwa ketergantungan pada satu negara donor besar bisa menjadi titik lemah sistem kesehatan global. Diversifikasi sumber pendanaan dan kepemimpinan kolektif menjadi isu krusial yang mengemuka pasca-pandemi. Analisis terkini menyoroti bagaimana teknologi digital dan AI kini mulai diintegrasikan untuk memantau wabah secara real-time, mengurangi ketergantungan pada pelaporan manual yang kerap terhambat oleh politik birokrasi. Negara-negara berkembang kini mendorong reformasi WHO agar lebih transparan dan responsif terhadap kebutuhan lokal, bukan hanya kepentingan negara adidaya.

Studi Kasus: Respons Pandemi di Negara Berkembang vs Maju

Sebuah studi komparatif menarik dilakukan oleh Universitas Johns Hopkins pada tahun 2023, membandingkan respons pandemi di negara-negara dengan tingkat ketergantungan pada WHO yang berbeda. Studi ini menemukan bahwa negara-negara yang aktif mengikuti rekomendasi WHO namun tetap mempertahankan otonomi kebijakan lokal (seperti Vietnam dan Selandia Baru di awal pandemi) berhasil menekan angka kematian secara signifikan dibandingkan negara yang hanya mengandalkan pasokan global tanpa strategi lokal yang kuat. Data ini memperkuat argumen WHO bahwa pemberian otoritas penuh kepada negara anggota adalah kunci keberhasilan, sekaligus menantang narasi bahwa WHO mencoba mengambil alih keputusan domestik negara lain. Infografis visual menunjukkan korelasi positif antara kecepatan respons lokal yang didukung data WHO dan penurunan laju penularan, membuktikan bahwa informasi akurat yang netral adalah senjata paling ampuh melawan krisis kesehatan.

Kolaborasi global adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan kesehatan yang tidak mengenal batas negara. Setiap langkah yang diambil oleh organisasi internasional harus didasarkan pada transparansi dan dedikasi pada kemanusiaan, bukan pada kepentingan politis sesaat. Kita sebagai masyarakat global perlu terus mengawasi dan mendukung upaya-upaya yang bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan dunia, karena keamanan kesehatan satu negara adalah cerminan dari keamanan kesehatan seluruh dunia. Mari terus bersatu dalam menjaga kesehatan bersama demi masa depan yang lebih baik dan aman bagi generasi mendatang.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan