Fit & Proper Test Deputi Gubernur BI, Ponakan Prabowo Usung Strategi Gerak

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Thomas Djiwandono telah menyampaikan lima pilar strategi sistematik yang diberi nama “strategi gerak” saat menghadiri uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di DPR, Jakarta, pada Senin, 26 Januari 2026. Konsep tematik ini dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus membuat kebijakan moneter serta sistem keuangan menjadi lebih adaptif dan lincah.

Lima pilar utama yang diusung meliputi governance kebijakan yang kuat dan kredibel, peningkatan efektivitas kebijakan, ketahanan sistem keuangan, akselerasi sinergi antara fiskal, moneter, dan sektor keuangan, serta keberlanjutan transformasi keuangan. Thomas menilai fondasi regulasi di Indonesia sudah cukup kuat, terbukti dari penguatan independensi BI sejak 1999 dan lahirnya Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) pada 2023, yang menjadi pondasi penting dalam aspek governance.

Keponakan Presiden Prabowo Subianto ini menegaskan bahwa kelima hal tersebut merupakan kunci untuk membangun pertumbuhan ekonomi yang adaptif dan lincah. Meskipun menekankan pentingnya harmonisasi antar lembaga, Thomas memastikan bahwa prinsip independensi Bank Indonesia tetap menjadi prioritas utama. Sinergi dengan pemangku kepentingan lain seperti fiskal, OJK, dan lembaga keuangan lainnya tidak akan mengurangi kemandirian BI dalam menjalankan tugasnya secara prudent dan terukur sesuai mandat yang berlaku.

Analisis dan Data Tambahan

Strategi “gerak” yang diusung Thomas Djiwandono ini sejalan dengan kondisi ekonomi makro terkini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2024 sebesar 5,02% (year-on-year), dengan kinerja ekspor dan konsumsi rumah tangga sebagai motor penggerak utama. Namun, tantangan global seperti ketidakpastian suku bunga The Fed dan fluktuasi harga komoditas masih membayangi. Penguatan governance dan sinergi fiskal-moneter yang diusung Thomas menjadi krusial untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi yang sempat menyentuh 2,57% pada Desember 2024.

Dari sisi sistem keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat tingkat kesehatan perbankan masih solid dengan rasio NPL (Non-Performing Loan) di level 2,55% per November 2024. Strategi resiliensi sistem keuangan perlu memperkuat proteksi terhadap risiko digital, mengingat transaksi digital di Indonesia tumbuh pesat. Berdasarkan data Bank Indonesia, transaksi digital melalui QRIS mencapai Rp 41,8 triliun sepanjang 2024. Oleh karena itu, akselerasi transformasi keuangan digital yang inklusif harus menjadi fokus agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan hingga ke level mikro.

Studi Kasus: Sinergi di Masa Krisis

Pengalaman krisis finansial Asia 1997/1998 menjadi studi kasus krusial mengapa sinergi fiskal dan moneter sangat vital. Saat itu, disharmoni kebijakan antara Bank Indonesia dan pemerintah memperdalam depresiasi rupiah. Sebaliknya, pada masa pandemi COVID-19 (2020-2022), koordinasi erat antara BI, pemerintah, dan OJK melalui pelonggaran fiskal dan likuiditas moneter berhasil menstabilkan pasar keuangan lebih cepat dibanding negara tetangga. Ini membuktikan bahwa sinergi yang terukur tanpa mengorbankan independensi BI mampu menjadi tameng ekonomi nasional.

Infografis: 5 Pilar Strategi Gerak Thomas Djiwandono

  1. Governance Kredibel: Memperkuat regulasi dan independensi BI berdasarkan UU P2SK.
  2. Efektivitas Kebijakan: Kebijakan moneter yang responsif terhadap perubahan kondisi pasar.
  3. Resiliensi Sistem Keuangan: Meningkatkan ketahanan perbankan dan pasar modal menghadapi guncangan eksternal.
  4. Sinergi Tri Fungsi: Koneksi optimal antara kebijakan fiskal (pemerintah), moneter (BI), dan regulasi sektor keuangan (OJK).
  5. Transformasi Keuangan: Akselerasi digitalisasi sistem pembayaran dan inklusi keuangan berkelanjutan.

Ekonomi yang tangguh bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi juga tentang stabilitas dan kesiapan menghadapi gejolak global. Strategi yang sistematis dan didukung oleh tata kelola yang kuat akan menjadi pelindung utama bagi daya saing bangsa. Mari bersama membangun fondasi ekonomi yang lebih adaptif agar setiap langkah kebijakan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan