10 Rumah Rusak Tertimpa Pohon Saat Cuaca Ekstrem di Pangandaran

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Angin kencang yang berhembus di Kabupaten Pangandaran pada Sabtu, 24 Januari 2026, telah memporak-porandakan beberapa area dengan insiden pohon tumbang. Hantaman batang pohon yang roboh tersebut menimpa bangunan rumah warga hingga mengalami kerusakan cukup parah.

Data yang dihimpun oleh Taruna Siaga Bencana (Tagana) setempat mencatatkan sedikitnya 10 unit rumah penduduk yang terdampak musibah ini. Peristiwa ini terjadi di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Sidamulih, Kecamatan Padaherang, serta Kecamatan Kalipucang.

Kecamatan Kalipucang menjadi wilayah dengan tingkat kerusakan tertinggi, di mana terdapat lima Kepala Keluarga (KK) yang rumahnya tertimpa material pohon. Kelima bangunan tersebut berada di Desa Ciparakan, dengan tingkat kerusakan bervariasi mulai dari ringan hingga sedang.

Kepala Tagana Kabupaten Pangandaran, Nana Suryana, memastikan bahwa tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam kejadian tersebut. Ia menambahkan bahwa meskipun saat kejadian sebagian besar penghuni sedang berada di dalam rumah, beruntung tidak ada yang terluka. “Untuk korban luka juga tidak ada, hanya kerusakan saja,” ujarnya pada hari Minggu, 25 Januari 2026.

Jenis pohon yang tumbang dan menghantam bangunan kebanyakan adalah pohon kelapa dan pohon petai. Akibatnya, bagian dinding serta atap rumah warga mengalami kerusakan cukup serius. Angin kencang tersebut dikabarkan berhembus cukup deras sejak pukul 11:00 hingga 15:00 WIB. Salah seorang warga Parigi, Sumiarsih (40), mengungkapkan bahwa situasi saat itu terasa cukup mencekam, terutama bagi pemilik rumah yang letaknya dekat dengan pepohonan tinggi.

Analisis dan Data Tambahan

Peristiwa bencana alam akibat cuaca ekstrem seperti angin kencang dan pohon tumbang seringkali terjadi di wilayah pesisir selatan Jawa Barat, termasuk Pangandaran. Faktor geografis dengan banyaknya vegetasi pohon dewasa dan curah hujan tinggi menjadi pemicu utama. Berdasarkan data BMKG, fenomena anomali iklim seperti gelombang panas yang disertai tekanan udara rendah dapat memicu kecepatan angin yang tidak biasa di waktu tertentu.

Studi kasus serupa pernah terjadi di wilayah Bandung Barat pada awal tahun 2024, di mana pohon tumbang menutup akses jalan utama akibat akar yang tidak kuat menahan struktur tanah yang basah. Hal ini menunjukkan perlunya evaluasi terhadap kondisi pohon-pohon tua di area permukiman. Masyarakat diimbau untuk melakukan pemangkasan ranting secara berkala, terutama saat memasuki musim pancaroba, guna meminimalisir risiko kerusakan properti saat terjadi angin kencang.

Masyarakat harus lebih waspada terhadap perubahan cuaca yang cepat, terutama di daerah dengan tingkat vegetasi lebat. Memastikan lingkungan sekitar rumah bebas dari bahaya pohon rawan tumbang adalah langkah preventif penting untuk melindungi keluarga. Jangan tunggu hingga bencana datang, mulailah peduli dan perbaiki kerentanan lingkungan hunian Anda sekarang juga demi keamanan bersama.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan