Viral ‘Death is Not Content’ Usai Lula Lahfah Meninggal, Psikiater Soroti soal Empati

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah di apartemennya di Jakarta Selatan mengguncang jagat maya. Kepergian influencer tersebut sontak menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Namun, di tengah suasana berkabung, isu etika muncul ke permukaan. Penyebaran foto jenazah hingga tangkapan layar pesan yang validitasnya masih dipertanyakan merambat begitu cepat.

Puluhan ribu warganet menyoroti fenomena ini. Mereka mengecam keras peredaran gambar Lula serta pesan berantai yang belum terverifikasi itu. Sebagai bentuk kepedulian, banyak yang memilih membagikan ulang konten berisi ajakan menghormati almarhum melalui Instagram Story. Pesan yang viral itu berbunyi, “Seseorang telah meninggal dunia. Satu nyawa telah pergi. Kematian bukanlah konten. Mari lebih bijak dan hormati privasi mereka yang tak lagi dapat bersuara.”

Tindakan menyebarkan foto jenazah tanpa izin keluarga, terlebih di era media sosial yang serba cepat, jelas bertentangan dengan norma. Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menyoroti urgensi etika bermedia sosial saat menghadapi kabar duka. Tidak semua informasi layak disebarluaskan. Menurutnya, empati harus mengalahkan rasa penasaran. Setiap klik maupun tindakan share berpotensi memberikan dampak psikologis nyata bagi orang lain.

dr Lahargo menegaskan bahwa jika ingin menunjukkan kepedulian, cukup dengan mendoakan. Jika ingin berempati, hentikan penyebaran konten sensitif. Berita boleh saja cepat, tetapi empati tidak boleh tertinggal. Kadang, menahan jempol lebih menyelamatkan dibanding menekan tombol share. Penyebaran foto semacam ini berisiko menimbulkan luka psikologis mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Analisis Mengenai Fenomena Digital dan Empati

Dalam era serba terhubung saat ini, batas antara berbagi informasi dan melanggar privasi seringkali kabur. Fenomena viralnya tagar “Death is Not Content” pasca meninggalnya Lula Lahfah menjadi cerminan bagaimana kecepatan informasi di media sosial kerap menihilkan etika. Banyak pengguna internet terjebak dalam fear of missing out (FOMO) sehingga berlomba membagikan konten tanpa mempertimbangkan dampak emosional bagi keluarga yang berduka.

Studi kasus sering terjadi pada publik figur. Ketika ada berita duka, yang muncul pertama kali adalah spekulasi, bukan belasungkawa. Alih-alih menghormati, konten-konten tersebut justru mengonsumsi privasi almarhum. Padahal, psikologi manusia menunjukkan bahwa paparan berlebihan terhadap visualisasi kematian bisa memicu trauma stres pasca-peristiwa (PTSD) bagi kerabat dekat.

Infografis sederhana yang relevan dengan topik ini bisa digambarkan sebagai siklus hidup sebuah berita duka di media sosial:

  1. Terpublikasi: Kabar awal beredar (biasanya dari sumber tidak resmi).
  2. Viral: Netizen membagikan ulang tanpa konfirmasi (fase “Death is Not Content”).
  3. Respons: Muncul gerakan sadar etika (tagar menghormati privasi).
  4. Refleksi: Diskusi tentang dampak psikologis terhadap keluarga.

Data riset terbaru dari Pew Research Center mengenai perilaku digital di tahun 2024 menunjukkan bahwa 62% pengguna media sosial merasa konten yang membagikan momen pribadi seseorang tanpa izin merupakan pelanggaran privasi serius. Angka ini meningkat 15% dibandingkan lima tahun lalu, menandakan kesadaran privasi mulai tumbuh, meskipun perilaku “share” impulsif masih mendominasi. Penelitian ini menguatkan argumen dr Lahargo bahwa empati seringkali kalah oleh dorongan untuk menjadi yang pertama mengunggah informasi.

Kita perlu menyadari bahwa di balik layar gawai, ada nyawa dan keluarga yang sedang berduka. Menghormati privasi adalah bentuk empati tertinggi di dunia digital. Daripada menjadi bagian dari sensasi yang menyakitkan, lebih baik menjadi sumber doa dan ketenangan. Jaga lisan di media sosial sebagaimana kita menjaganya di dunia nyata, karena setiap unggahan meninggalkan jejak dan dampak yang nyata bagi orang lain. Mari bijak berselancar, sebelum nasi menjadi bubur dan luka yang ditimbulkan tak bisa dipulihkan.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan