Nelayan Indonesia Terhimpun Akibat Cuaca Buruk

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Cuaca buruk yang melanda pesisir Indonesia telah menghantam keras mata pencaharian nelayan kecil. Data terbaru dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mengungkap fakta yang memprihatinkan: 95% nelayan di lebih dari 350 desa pesisir terdampak langsung. Alhasil, 63% di antara mereka terpaksa menghentikan aktivitas melaut demi keselamatan.

Di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, kondisi ini memaksa nelayan kecil hanya mencari ikan di perairan dangkal atau sungai. Namun, hasil tangkapan menjadi tidak menentu. “Kadang dapat hasil, kadang tidak mendapat ikan sama sekali. Situasi ini sangat memukul ekonomi nelayan kecil,” ujar Ketua KNTI Lingga, Hariyanto, pada 24 Januari 2026.

Dampak serupa terjadi di berbagai wilayah. Di Ternate, Maluku Utara, nelayan tuna sudah hampir dua bulan tak bisa melaut akibat angin kencang dan gelombang tinggi. Gafur Kaboli, Sekretaris KNTI setempat, menyatakan risikonya terlalu besar hingga aktivitas penangkapan ikan lumpuh total. Situasi serupa juga dirasakan nelayan di Maluku Tengah dan Halmahera Selatan.

Tragisnya, bencana ini menelan korban jiwa. Di Pasangkayu, Sulawesi Barat, seorang nelayan dilaporkan hilang terseret arus saat nekat melaut di tengah cuaca ekstrem. Abdul Razak, Ketua KNTI Pasangkayu, menegaskan bahwa nelayan sering kali terpaksa mengambil risiko fatal demi menyambung hidup.

Ketua Umum KNTI, Dani Setiawan, menyoroti kebutuhan mendesak akan intervensi negara. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016, pemerintah wajib memberikan perlindungan. Dani menekankan bahwa informasi prakiraan cuaca saja tidak cukup. Nelayan memerlukan skema perlindungan sosial dan ekonomi konkret agar tidak terpaksa melaut dalam kondisi berbahaya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ancaman tak hanya terjadi di perairan. Cuaca ekstrem juga menghantam sektor perikanan budidaya dan garam. Survei KNTI mencatat kerugian besar bagi petambak ikan di Tegal, Pemalang, Kendal, Karawang, dan Bekasi akibat banjir yang menggenangi tambak. Di sisi lain, petambak garam di Lombok Timur dan Jepara mengalami penurunan produksi drastis.

KNTI mendorong respons terpadu antara pemerintah pusat dan daerah. Penguatan perlindungan nelayan, penyaluran bantuan tepat sasaran, serta dukungan mitigasi perubahan iklim menjadi krusial. Dani memperingatkan bahwa penurunan produksi perikanan dan garam akan mengganggu rantai pasok nasional, menghambat hilirisasi sektor kelautan, dan mengancam ketahanan pangan.

Badai ekstrem yang menghantam pesisir Nusantara bukan sekadar masalah musim, melainkan ujian nyata bagi ketahanan hidup jutaan nelayan. Data KNTI yang mengkhawatirkan—dari 95% nelayan terdampak hingga 63% yang terpaksa berhenti melaut—menjadi alarm bahwa ketergantungan pada keberanian nekat harus diakhiri. Kita tidak bisa lagi menyalahkan angin dan ombak; tantangan ini menuntut solusi struktural. Perlindungan sosial yang kuat dan kebijakan adaptif harus segera diwujudkan. Jangan biarkan nelayan memilih antara nyawa dan sesuap nasi. Mari bersama mendukung transformasi kebijakan yang menempatkan keselamatan dan kesejahteraan nelayan sebagai prioritas utama demi masa depan laut Indonesia yang berkelanjutan.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan