Meta dan EssilorLuxottica Digugat terkait Ray-Ban Smart Glasses.

Saskia Puti

By Saskia Puti

Solos Technology telah mengajukan gugatan hukum terhadap Meta Platforms dan EssilorLuxottica, termasuk anak perusahaan Oakley, ke pengadilan federal di Massachusetts, Amerika Serikat, pada 23 Januari 2026. Gugatan ini menuding adanya pelanggaran hak cipta paten terkait teknologi yang digunakan pada kacamata pintar Ray-Ban Meta, dengan klaim ganti rugi mencapai miliaran dolar AS serta permintaan penghentian total penjualan produk tersebut.

Dalam dokumen gugatannya, Solos menyatakan bahwa teknologi utama yang menjadi tulang punggung kacamata pintar—seperti sistem audio, berbagai sensor, dan mekanisme pemrosesan interaksi real-time—telah dipatenkan jauh sebelum Meta dan mitra bisnisnya mulai merancang produk serupa. Solos juga menuding bahwa Meta dan EssilorLuxottica memperoleh akses ilegal terhadap prototipe perangkat Solos serta dokumentasi teknis internal, bahkan mempekerjakan mantan peneliti yang terlibat dalam pengembangan teknologi serupa. Pengetahuan ini diduga kuat digunakan untuk mengembangkan lini produk Ray-Ban Meta, yang saat ini memegang posisi signifikan di pasar perangkat wearable.

Perseteruan ini muncul di tengah pasar smart glasses global yang sedang tumbuh pesat, di mana perusahaan raksasa berlomba menghadirkan fitur canggih seperti konversi suara berbasis AI, audio terbuka, sensor lingkungan, dan pemrosesan visual. Sejak 2023, Meta bersama EssilorLuxottica telah memasarkan Ray-Ban Meta Wayfarer, yang kemudian diikuti oleh generasi penerus dan model Ray-Ban Meta Display yang dilengkapi layar mini. Perangkat ini terkenal karena integrasi kamera dan AI yang memungkinkan komunikasi hands-free tanpa perlu mengoperasikan smartphone.

Solos, yang juga memproduksi kacamata pintar berbasis AI dengan fitur serupa seperti kontrol musik dan penerjemah bahasa otomatis, menegaskan bahwa hak paten mereka mengenai multimodal sensing, sensor fusion, dan arsitektur sistem terintegrasi telah disalahgunakan. Mereka menuntut pengakuan atas hak kekayaan intelektual yang mereka klaim telah dilanggar oleh raksasa teknologi tersebut.

Gugatan ini menyoroti beberapa poin utama, termasuk pelanggaran paten teknologi inti kacamata pintar, dugaan penggunaan data internal oleh mantan karyawan Solos yang kini bekerja di Meta, serta permintaan ganti rugi finansial masif dan perintah pengadilan untuk menghentikan penjualan produk yang diduga melanggar. Solos bersikeras bahwa teknologi mereka telah dilindungi paten bertahun-tahun sebelum Meta memasuki segmen ini, dan produk terbaru Meta masih mengandalkan fondasi teknologi yang sama.

Ancaman terbesar bagi Ray-Ban Meta smart glasses bukan hanya soal ganti rugi finansial, melainkan potensi perintah penghentian penjualan sementara atau permanen oleh pengadilan. Jika injunction diberlakukan, Meta dan EssilorLuxottica mungkin harus menunda distribusi produk di pasar utama seperti Eropa dan Asia, mengingat sebelumnya Meta juga sudah menunda peluncuran Ray-Ban Display karena kendala pasokan.

Industri smart glasses sendiri tengah mengalami persaingan sengit, dengan berbagai perusahaan berusaha memadukan desain gaya hidup dan teknologi AR serta AI. Sengketa hukum antara Solos dan Meta menjadi pengingat bahwa risiko kekayaan intelektual adalah ancaman nyata di industri yang berkembang cepat ini. Kasus ini bisa menjadi preseden penting yang menentukan batas kolaborasi dan kompetisi di pasar perangkat wearable AI di masa depan.

Saat ini, kasus masih berada di tahap awal litigasi, dan Meta serta EssilorLuxottica belum memberikan komentar resmi. Keputusan pengadilan selanjutnya akan sangat menentukan nasib penjualan Ray-Ban Meta smart glasses serta mendorong industri teknologi untuk lebih berhati-hati dalam menghormati batasan inovasi dan hak cipta.

Pasar kacamata pintar kini berada di persimpangan kritis antara inovasi agresif dan perlindungan hak kekayaan intelektual. Kasus ini mengajarkan bahwa di balik laju teknologi yang super cepat, fondasi hukum paten harus tetap menjadi rujukan utama untuk menjaga keadilan bagi pelaku usaha skala kecil maupun raksasa teknologi. Para pengamat industri memperkirakan bahwa tren litigasi serupa akan semakin marak seiring dengan menyatunya fungsi smartphone ke dalam perangkat wearable yang lebih mini dan personal.

Sebuah studi kasus menarik terkait fenomena ini adalah perseteruan antara Fitbit dan Jawbone di pasar wearable fitness tracker pada pertengahan 2010-an. Saat itu, Jawbone menuntut Fitbit atas dugaan pencurian rahasia dagang oleh mantan karyawannya. Meskipun kasus tersebut berujung pada penutupan bisnis Jawbone, Fitbit tetap harus membayar ganti rugi dan menghadapi tekanan regulasi yang ketat. Pola ini mirip dengan apa yang dialami Meta saat ini, di mana aksi akuisisi talenta dan teknologi seringkali berbenturan dengan klaim paten dari perusahaan yang lebih dulu berinovasi. Data terbaru menunjukkan bahwa pasar smart glasses global diperkirakan akan tumbuh di atas 20% CAGR hingga 2030, didorong oleh permintaan integrasi AI generatif, namun pertumbuhan ini rentan terhambat oleh gugatan hukum semacam ini.

Kacamata pintar bukan lagi sekadar aksesori fesyen, melainkan medan pertempuran sengit antara hak intelektual dan ambisi pasar. Kasus ini membuka mata kita bahwa inovasi tanpa batas harus diiringi dengan itikad baik dan penghormatan pada hak pencipta. Mari terus ikuti perkembangan teknologi dengan kritis, karena setiap langkah kemajuan hari ini menentukan standar etika industri di masa depan.

Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Tinggalkan Balasan