Konflik Terbaru Arab Saudi dan UEA Picu Ketegangan di Timur Tengah

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kini menghadapi ketegangan yang cukup serius. Situasi ini dipicu oleh intensitas kampanye media yang dilancarkan oleh pihak Arab Saudi terhadap UEA. Banyak pihak menilai bahwa ini adalah salah satu perselisihan paling tajam yang terjadi di kawasan Teluk dalam beberapa tahun terakhir, yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan yang merupakan jantung keuangan Timur Tengah.

Menurut laporan AFP pada 25 Januari 2026, isu sensitif seputar pelanggaran hak asasi manusia dan tuduhan pengkhianatan telah beredar luas. Isu ini muncul melalui media pemerintah dan platform media sosial selama beberapa pekan terakhir. Pemicu awalnya adalah konflik singkat yang terjadi di Yaman, di mana operasi serangan udara oleh Arab Saudi berhasil memukul mundur serangan yang dilakukan oleh kelompok separatis yang didukung oleh UEA.

Salah satu pernyataan tajam datang dari televisi Al-Ekhbariya milik Arab Saudi. Dalam laporannya, mereka menuduh UEA telah “berinvestasi dalam kekacauan” dan memberikan dukungan kepada kelompok separatis di berbagai wilayah, mulai dari Libya, Yaman, hingga Tanduk Afrika. Intensitas kecaman ini tergolong baru, mengingat sebelumnya ketegangan terbesar di kawasan Teluk terjadi saat Arab Saudi dan UEA memimpin blokade diplomatik serta perdagangan terhadap Qatar selama lebih dari tiga tahun, yang bermula pada 2017.

Anna Jacobs, seorang analis keamanan Teluk, menilai bahwa dalam kondisi normal, negara-normonarki di kawasan ini berusaha keras menjaga citra stabilitas dan perdamaian. Namun, saat ini gesekan-gesekan yang selama ini tersimpan mulai terungkap ke publik dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Saling serang di media sosial mengingatkan banyak orang pada keretakan besar di Teluk sebelumnya. Sekarang Riyadh menyoroti masalah kebijakan regional Abu Dhabi, dan tidak ada tanda-tanda situasi akan mereda,” ujarnya.

Di tengah badai kritik ini, UEA terkesan lebih diam. Abdulkhaleq Abdulla, seorang profesor ilmu politik asal Emirat, mengatakan bahwa UEA “tidak terbiasa memprovokasi saudara kita”. Hingga saat ini, Abu Dhabi sebagian besar masih memilih untuk bungkam terkait isu ini.

Analisis dan Data Tambahan

Ketegangan antara dua kekuatan besar di Semenanjung Arab ini bukan hanya soal politik, tetapi juga persaingan pengaruh ekonomi dan militer di Timur Tengah. Arab Saudi, sebagai pemimpin de facto OPEC dan kekuatan tradisional, sering kali bergerak dengan pendekatan konservatif. Di sisi lain, UEA telah menjelma menjadi pusat keuangan global dan pusat inovasi yang lebih agresif dalam kebijakan luar negerinya. Konflik kepentingan ini kerap terjadi di negara-negara seperti Libya dan Yaman, di mana kedua negara mendukung faksi yang berbeda meskipun sebelumnya bersekutu.

Sebuah studi kasus yang relevan adalah situasi di Libya. Selama perang saudara, UEA mendukung Jenderal Khalifa Haftar (LNA), sementara Arab Saudi cenderung lebih hati-hati namun sering kali berada pada posisi yang berseberangan dengan Turki dan Qatar yang mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA). Perbedaan strategi inilah yang kini memanas di permukaan. Jika konflik perwakilan ini tidak segera diredam, risiko fragmentasi di kawasan Teluk bisa mengancam stabilitas harga minyak dunia dan keamanan maritim di Selat Hormuz.

Pola konflik ini mengingatkan kita bahwa tidak ada aliansi yang abadi dalam politik internasional. Setiap negara memiliki kepentingan nasionalnya masing-masing yang bisa berubah seiring waktu. Dinamika hubungan Arab Saudi dan UEA menjadi pengingat pentingnya diplomasi yang fleksibel dan komunikasi terbuka untuk menghindari eskalasi yang merugikan semua pihak. Melihat kompleksitas ini, kita diajak untuk tidak hanya menyoroti konflik, tetapi memahami akar masalahnya agar dapat menemukan solusi yang berkelanjutan bagi stabilitas global.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan