KH Miftachul Akhyar: Nakhoda Kokoh PBNU yang Menyatukan Sanad Keilmuan dengan Disiplin Tinggi dan Amanah Kiai Sepuh

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kepemimpinan KH Miftachul Akhyar dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU) sering digambarkan sebagai fondasi spiritual yang kokoh bagi organisasi terbesar di Indonesia ini. Posisi Rois ‘Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bukan hanya mengenai struktur administrasi semata, melainkan lebih jauh menjadi penentu arah kebijakan tertinggi dan penjaga marwah jam’iyah. KH Miftachul Akhyar, yang saat ini memangku amanah periode 2021-2026, telah membuktikan dirinya layak memimpin NU dengan kriteria yang komprehensif.

Beliau, yang akrab disapa Kiai Miftah, bukan hanya seorang ulama karismatik, tetapi juga representasi dari empat pilar utama seorang Rois Aam: Aliman (berilmu), Faqihan (ahli fikih), Zuhudan (kesederhanaan), serta kemampuan organisatoris yang andal. Di atas itu semua, kepemimpinan Kiai Miftah ditandai oleh ketegasan disiplin, yang tidak lepas dari restu dan amanah para masyayikh sepuh, khususnya almaghfurlah KH Maimoen Zubair (Mbah Moen). Berikut adalah analisis mendalam mengenai kelayakan KH Miftachul Akhyar dalam melanjutkan estafet kepemimpinan di PBNU.

Ilmu dan Keahlian Fikih yang Mumpuni

Sebagai pemegang mandat tertinggi di bidang syuriyah, kedalaman ilmu (Aliman) dan kepiawaian dalam fikih (Faqihan) adalah syarat mutlak. KH Miftachul Akhyar adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya yang telah menempuh rihlah ilmiah panjang. Kualitas keilmuannya telah diakui luas oleh para ulama sejawat. Ketajaman analisis fikihnya teruji dalam merespons berbagai permasalahan keumatan dan kebangsaan. Beliau tidak hanya memahami teori secara tekstual, namun mampu mengaplikasikan Fiqh al-Waqi’ (fikih kontekstual) dalam pengurusan organisasi. Ini memastikan bahwa setiap kebijakan yang dikeluarkan PBNU selalu selaras dengan tradisi pesantren, namun tetap relevan menjawab tantangan zaman yang terus berubah.

Sosok Zuhudan yang Menjadi Teladan

Kiai Miftah dikenal sebagai sosok yang zuhud, yaitu jauh dari hiruk-pikuk jabatan dan popularitas duniawi. Meskipun pernah menduduki posisi strategis sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan saat ini memimpin PBNU, beliau tetap tampil dengan kesederhanaan yang khas. Sikap zuhud ini menjadikannya seorang figur yang mengayomi, bebas dari sifat arogan, dan selalu mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Keseharian beliau yang tenang namun berwibawa memberikan ketenangan tersendiri bagi warga Nahdliyin di tingkat akar rumput, menjadikannya panutan yang nyata tanpa jarak.

Pemahaman Organisasi, Tegas, dan Disiplin Tinggi

Salah satu keunggulan utama Kiai Miftah terletak pada kemampuannya memadukan kesufian dengan kedisiplinan organisasi yang tinggi. Beliau memahami betul Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU serta seluruh mekanisme jalannya organisasi. Ketegasannya terlihat jelas dalam penegakan prinsip bahwa setiap keputusan PBNU harus melalui proses kelembagaan yang sah. Beliau tidak ragu menegur atau meluruskan pengurus yang menyimpang dari garis organisasi demi menjaga disiplin jam’iyah. Ketegasan ini menjadi kebutuhan krusial bagi NU untuk menghadapi tantangan internal dan eksternal, khususnya dalam menertibkan administrasi dan disiplin pengurus.

Sepanjang kiprahnya, mulai dari tingkat cabang hingga pusat, Kiai Miftah konsisten menekankan pentingnya AD/ART di atas kepentingan individu. Jauh sebelum memimpin PBNU, ketegasannya telah terbukti ketika menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Surabaya (2000-2005) dan Rais Syuriah PWNU Jawa Timur (2007-2018). Beliau dikenal tidak segan menegur pengurus yang dianggap tidak aktif atau melanggar khittah organisasi. Beliau sering mengingatkan bahwa “mengurus NU itu karena takdzim kepada muassis (pendiri NU)”, sehingga disiplin adalah wujud nyata dari sikap takdzim tersebut.

Puncak ketegasan Kiai Miftah terlihat saat memimpin sebagai Rais ‘Aam PBNU (2018-sekarang). Beliau menegaskan bahwa keputusan PBNU harus sesuai aturan organisasi, bukan tindakan individual. Bukti konkret ketegasan ini terjadi pada akhir 2025, di tengah konflik internal yang muncul. Kiai Miftah memimpin langkah organisasi untuk memberhentikan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dari jabatan Ketua Umum PBNU dan menetapkan Penjabat Ketum baru. Langkah ini diambil setelah serangkaian teguran terkait tata kelola keuangan dan akademi kepemimpinan yang dianggap melanggar aturan. Selain itu, Kiai Miftah juga menerbitkan instruksi penghentian sementara pelaksanaan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN-NU) dan menindaklanjuti ketidakpatuhan pengurus terhadap syuriah. Ketegasan Kiai Miftachul Akhyar berakar pada prinsip bahwa struktur NU harus patuh pada aturan hukum (AD/ART) demi menjaga muruah (harga diri) organisasi NU di tengah masyarakat.

Amanah dari KH Maimoen Zubair

Alasan paling emosional dan kuat mengapa Kiai Miftah layak memimpin adalah restu dari almaghfurlah KH Maimoen Zubair (Mbah Moen). Sebelum wafat, Mbah Moen secara khusus memproyeksikan Kiai Miftah untuk memimpin NU. Doa dan dukungan Mbah Moen merupakan bentuk pengakuan terhadap kapasitas dan loyalitas Kiai Miftah. “Doa Mbah Moen terkabul,” ujar banyak kiai saat Kiai Miftah terpilih. Restu ini menegaskan bahwa Kiai Miftah bukan sekadar terpilih melalui mekanisme biasa, melainkan juga dipilih oleh para kiai sepuh (Ahwa) sebagai bentuk pertanggungjawaban amanah keilmuan dan perjuangan melanjutkan khittah NU.

Kualitas Suyukhan dan Rosikhan

Kiai Miftah dikenal sebagai sosok yang suyukhan (ahli/khusyuk dalam mengurus keumatan) dan rosikhan (kokoh/mendalam dalam beragama). Dalam memimpin PBNU, beliau menunjukkan kemampuan menyeimbangkan antara urusan politik kebangsaan dan pelayanan umat. Beliau konsisten menekankan bahwa NU adalah wadah menata hidup untuk kebaikan diri, bangsa, dan agama, bukan sekadar ikut hidup di dalamnya, apalagi mencari kehidupan. Keadilan dan keteguhan beliau dalam mengambil keputusan, termasuk saat tabayun dalam polemik organisasi dan keputusan tegasnya, membuktikan kepemimpinannya yang berkeadilan.

Dengan perpaduan kedalaman ilmu (Aliman-Faqihan), kesederhanaan (Zuhudan), pemahaman manajemen organisasi yang kuat, ketegasan disiplin, serta amanah dan restu dari Mbah Moen, KH Miftachul Akhyar adalah figur Rois ‘Aam yang sangat layak saat ini. Melanjutkan kepemimpinan beliau adalah langkah krusial untuk menjaga stabilitas dan marwah Nahdlatul Ulama. Wallahu’alam bishawab.

Data Riset Terbaru:

Dalam konteks kepemimpinan NU saat ini, relevansi penerapan Fiqh al-Waqi’ semakin menjadi sorotan. Data terbaru menunjukkan bahwa tantangan modernitas seperti isu digital, ekonomi syariah, dan pluralisme membutuhkan pemimpin yang tidak hanya menguasai kitab kuning, tetapi mampu mengkontekstualisasikannya. Penelitian terbaru dari Pusat Studi Islam dan Demokrasi (PSID) menyoroti pentingnya figur yang memiliki disiplin organisasi tinggi untuk mencegah fragmentasi internal. Analisis ini memperkuat posisi KH Miftachul Akhyar yang dikenal tegas dalam menegakkan AD/ART, sebagai kunci utama menjaga soliditas organisasi di era disruptif.

Analisis Unik dan Simplifikasi:

Bayangkan sebuah kapal besar bernama NU yang sedang berlayar di lautan luas penuh gelombang tantangan zaman. KH Miftachul Akhyar berperan sebagai nahkoda utama (Rois ‘Aam) yang tidak hanya mengandalkan kompas tradisi, tetapi juga memahami arus air (konteks sosial) saat ini. Sifat zuhudnya membuat beliau tidak tergoda oleh harta atau kekuasaan sesaat, sehingga fokus utamanya adalah keselamatan dan kenyamanan seluruh penumpang (warga Nahdliyin). Ketegasannya dalam menegakkan aturan layaknya aturan lalu lintas di laut, mencegah tabrakan antar kapal lain atau bahaya karang internal. Dengan kata lain, kepemimpinan beliau adalah gabungan antara kearifan tradisional yang tenang dan manajemen modern yang disiplin.

Studi Kasus:

Sebuah studi kasus menarik terjadi pada akhir 2025 terkait pemberhentian KH Yahya Cholil Staquf dari Ketua Umum PBNU. Situasi ini menjadi ujian nyata bagi ketegasan Kiai Miftah. Alih-alih membiarkan konflik berlarut-larut yang dapat memecah belah organisasi, Kiai Miftah mengambil langkah tegas berdasarkan AD/ART. Keputusan ini didasari oleh teguran berulang terkait tata kelola keuangan dan pelaksanaan AKN-NU yang dianggap tidak sesuai mekanisme. Studi kasus ini menunjukkan bagaimana prinsip disiplin organisasi diterapkan dalam situasi krisis nyata. Hasilnya, meskipun menuai pro kontra, langkah ini berhasil menjaga struktur kelembagaan NU agar tetap berjalan sesuai khittah, membuktikan bahwa keputusan kolektif berbasis aturan lebih diutamakan daripada kepentingan individual. Ini menjadi contoh konkret bagaimana kepemimpinan Kiai Miftah berfungsi sebagai filter untuk menjaga kemurnian tujuan organisasi.

NU membutuhkan sosok yang mampu merawat tradisi tanpa mengabaikan dinamika zaman, sekaligus menegakkan disiplin tanpa kehilangan ruh kekeluargaan. Perjalanan panjang KH Miftachul Akhyar membuktikan bahwa konsistensi dalam ilmu, amal, dan ketegasan adalah kunci abadi untuk memimpin organisasi sebesar Nahdlatul Ulama. Mari bersama menjaga marwah ini dengan menghargai proses dan keputusan yang telah diambil oleh para ulama kita, karena di tangan mereka, khazanah Islam nusantara akan terus terjaga dan berkembang untuk masa depan yang lebih gemilang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan