Isak Tangis Iringi Pemakaman Farhan, Pilot ATR 42-500 yang Gugur dalam Tragedi Sriwijaya Air SJ 182

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pemakaman Farhan Gunawan, kopilot pesawat ATR 42-500 PK-THT, berlangsung haru di Pemakaman Darussalam Valley, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada Minggu (25/1/2026) sekitar pukul 10.00 Wita. Jenazah korban kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, ini dimasukkan ke liang lahad disaksikan pelayat berbaju hitam yang mengiringi perjalanan terakhirnya.

Cuaca yang semula terik berubah mendung mendadak ketika prosesi pemakaman berlangsung. Sebuah tenda hijau meneduhkan area kuburan, namun tidak mampu menahan derai air mata yang pecah saat jenazah Farhan diturunkan. Suara tangis semakin menggema ketika seorang ustaz memimpin doa dengan suara tersedu-sedu seusai pemakaman selesai.

Nur Husein, kakek korban, mencoba tegar meski hatinya remuk. Ia menyampaikan harapan keluarga agar cucunya selamat dan kembali berkumpul, namun mengikhlaskan takdir yang berkehendak lain. “Tiada daya dan upaya kita kecuali kita serahkan kepada Allah SWT. Insyaallah dengan peristiwa semacam ini dalam syariat agama adalah mati syahid,” tuturnya dengan lirih.

Ibu Farhan terlihat duduk di dekat nisan sambil menangis tersedu-sedu usai prosesi selesai. Seorang kerabat memegang foto Farhan saat keluarga berdoa untuk kepergian sang putra tercinta, mengiringi kepergian sang kopilot menuju peristirahatan terakhirnya.

Kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung meninggalkan duka mendalam. Pesawat yang dioperasikan oleh maskapai swasta ini hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Bandara Internasional Yogyakarta menuju Makassar. Pencarian dilakukan intensif oleh tim SAR gabungan, termasuk Basarnas, TNI, dan Polri. Kondisi medan yang sulit, berupa hutan lebat dan tebing curam, menjadi tantangan utama dalam operasi penyelamatan.

Kecelakaan ini menjadi peringatan penting mengenai keselamatan penerbangan di Indonesia, khususnya di wilayah pegunungan. Data menunjukkan bahwa faktor cuaca ekstrem dan medan geografis menjadi tantangan utama dalam penerbangan regional. Penerapan teknologi navigasi terbaru serta pelatihan intensif bagi pilot menjadi kunci untuk meminimalisir risiko di masa depan. Studi kasus ini juga menggugah kesadaran akan pentingnya standar keamanan yang lebih ketat bagi maskapai penerbangan domestik.

Mari kita renungkan bahwa hidup ini begitu rapuh, mengajarkan kita untuk menghargai setiap momen bersama orang tercinta. Duka ini mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik, menjaga hubungan dengan keluarga, dan mempersiapkan bekal terbaik menghadapi takdir Illahi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan