Kabupaten Garut secara konsisten masuk dalam kategori wilayah rawan bencana tinggi, sebuah fakta yang tak terpisahkan dari kondisi geografisnya yang didominasi oleh perbukitan dan lereng curam. Sepanjang tahun 2025, catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut menunjukkan angka yang cukup signifikan, dengan terjadinya 592 insiden bencana alam. Dari jumlah tersebut, fenomena tanah longsor mendominasi statistik dengan angka paling tinggi.
Abud Abdullah, selaku Sekretaris BPBD Kabupaten Garut, memaparkan bahwa dari total insiden yang terjadi, sebanyak 396 kasus telah melalui proses asesmen lebih lanjut. “Kejadian bencana total 592 bencana, yang sudah asesmen 396,” ucapnya pada Kamis, 22 Januari 2026.
Dampak dari gelombang bencana ini menyebar luas ke 41 kecamatan yang ada di Kabupaten Garut. Namun, terdapat satu wilayah yang menjadi episentrum frekuensi kejadian tertinggi, yaitu Kecamatan Pasirwangi dengan mencatatkan 38 insiden bencana sepanjang tahun tersebut.
Jika dikelompokkan berdasarkan jenisnya, data menunjukkan bahwa tanah longsor menjadi ancaman utama dengan 308 kejadian. Disusul oleh fenomena cuaca ekstrem sebanyak 169 kasus, dan banjir yang menggenangi sejumlah titik sebanyak 88 kali. Sisanya merupakan bencana dengan kategori frekuensi rendah, di antaranya kebakaran (18 kasus), epidemi (4 kasus), gelombang tinggi (3 kasus), dan kekeringan (2 kasus).
Dampak sosial dan fisik dari rangkaian bencana ini tergolong masif. Sebanyak 7.399 jiwa terdampak langsung, yang setara dengan 2.650 Kepala Keluarga. Dari sisi kerusakan infrastruktur hunian, tercatat 2.633 unit rumah mengalami kerusakan. Rincian kerusakan tersebut meliputi 403 unit rusak ringan, 28 unit rusak sedang, dan 287 unit rusak berat. Selain itu, ada pula 1.440 unit rumah yang terendam banjir dan 475 unit rumah lainnya dalam kondisi terancam.
Tak hanya hunian, fasilitas publik juga ikut terpukul. BPBD mencatat kerusakan pada 42 unit fasilitas pendidikan, 1 unit fasilitas kesehatan, 38 unit fasilitas ibadah, serta 4 unit fasilitas umum. Di sektor infrastruktur penunjang, terdapat 116 unit tempat penampungan sementara (TPT), 17 unit jembatan, dan 94 titik jalan yang mengalami kerusakan.
Mengantisipasi meningkatnya risiko di tahun-tahun mendatang, BPBD Garut terus menggiatkan upaya mitigasi. Salah satu strategi utama adalah memperkuat literasi bencana melalui sosialisasi, diseminasi informasi, dan edukasi kepada masyarakat serta pelajar, khususnya melalui skema Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Pemahaman tentang cara bertindak saat bencana menjadi kunci utama dalam program ini.
Selain edukasi, pengawasan ketat terhadap potensi bencana berdasarkan data Kawasan Rawan Bencana (KRB) terus dilakukan. Peralatan evakuasi dan dukungan logistik penanganan darurat juga terus dilengkapi. Di tingkat desa dan kecamatan, pembentukan entitas tangguh seperti Kecamatan Tangguh Bencana dan Desa Tangguh Bencana menjadi tulang punggung strategi. Melalui simulasi rutin dan penguatan kapasitas relawan, masyarakat dilatih untuk memiliki ketahanan dalam menghadapi ancaman bencana.
Pemetaan risiko bencana di Garut menunjukkan pola yang kompleks, di mana aktivitas alam dan kondisi tanah memainkan peran sentral. Analisis terkini menyoroti bahwa curah hujan ekstrem yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir memicu peningkatan kejadian longsor di area yang sebelumnya tergolong stabil. Data menunjukkan bahwa bukan hanya faktor alam, tetapi tata guna lahan di sekitar lereng juga berkontribusi terhadap tingkat kerawanan.
Sebagai contoh nyata, studi kasus di Kecamatan Pasirwangi menggambarkan bagaimana struktur tanah labil dipicu oleh penetrasi air hujan yang intens, menyebabkan kejadian longsor berulang. Infografis sederhana yang dapat digambarkan adalah diagram alir respons bencana: dari deteksi dini melalui pemantauan KRB, penerapan SPAB di sekolah, hingga evakuasi mandiri oleh Desa Tangguh Bencana. Ini membuktikan bahwa kesiapsiagaan komunitas lokal adalah senjata paling efektif meminimalkan korban jiwa.
Melihat data 592 bencana dalam setahun, kita diingatkan bahwa bencana bukan sekadar statistik, melainkan panggilan untuk meningkatkan kewaspadaan. Setiap individu harus menjadi agen perubahan dengan memahami lingkungan sekitar dan siap bertindak cepat saat tanda-tanda bencana muncul. Persiapan dini, mulai dari memahami rute evakuasi hingga memiliki kotak darurat, adalah investasi terbaik melindungi diri dan keluarga. Jangan biarkan ketidaksiapan menjadi alasan; mulailah membiasakan diri dengan budaya tangguh bencana hari ini untuk masa depan yang lebih aman.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.