Menjelang malam puncak penghargaan Academy Awards ke-98, ramalan pemenang untuk kategori Best Picture atau Film Terbaik di ajang Oscar 2026 semakin memanas. Dari sepuluh nominasi yang berkompetisi, mayoritas analis penghargaan dan pengamat industri perfilman menilai bahwa film berjudul “One Battle After Another” menjadi kandidat terkuat untuk merebut piala bergengsi tersebut.
Prediksi ini tidak muncul secara instan, melainkan didasari oleh berbagai faktor krusial. Mulai dari sambutan positif para kritikus, pencapaian gemilang di sejumlah ajang penghargaan sebelumnya, kepiawaian sang sutradara, hingga pola voting yang konsisten ditunjukkan oleh Academy dalam beberapa tahun terakhir. Tidak mengherankan jika film ini menjadi buah bibir dan sorotan utama.
Posisi Terdepan: One Battle After Another
Disutradarai oleh Paul Thomas Anderson, film One Battle After Another memenuhi kriteria yang sering dicari oleh para anggota Academy. Tidak sekadar menghibur, film ini menawarkan visi artistik yang kuat, kedalaman karakter, dan muatan emosional yang mampu menyentuh penonton dari berbagai belahan dunia.
Film ini telah mengantongi nominasi Film Terbaik dan bersaing ketat di kategori utama lainnya seperti Sutradara Terbaik serta Aktor Pendukung Terbaik. Deretan nominasi ini sering menjadi indikator kuat bagi peluang memenangkan kategori utama. Banyak pengamat menilai, One Battle After Another berhasil menemukan keseimbangan sempurna antara keindahan seni dan daya tarik emosional, dua faktor krusial dalam sistem voting preferensial di Oscar.
Pesaing Utama: Hamnet
Menyusul di posisi kedua, film Hamnet disebut-sebut sebagai penantang paling serius. Disutradarai oleh Chloé Zhao, film ini sukses mencuri perhatian dengan pendekatan puitis dan muatan emosional yang mendalam dalam mengadaptasi karya sastra yang sensitif.
Keunggulan Hamnet terletak pada penampilan akting para pemerannya, arahan sutradara yang brilian, serta sentuhan emosional yang menjadi ciri khas film-film favorit Academy. Jika terjadi pergeseran suara signifikan di detik-detik akhir, bukan tidak mungkin Hamnet akan menjadi kuda hitam yang mengejutkan.
Dominasi Nominasi: Sinners
Sinners memang mendominasi dari segi jumlah nominasi dengan total 16 nominasi. Namun, dominasi jumlah tidak selalu menjamin kemenangan di kategori Film Terbaik. Disutradarai oleh Ryan Coogler, film ini menampilkan performa mengesankan di berbagai lini, khususnya akting dan aspek teknis.
Sejumlah analis memprediksi Sinners lebih berpeluang meraih piala di kategori individu ketimbang gelar utama. Melihat sejarah Oscar, film dengan nominasi terbanyak sering kali kalah bersaing dengan film yang dianggap lebih kuat secara selera dan emosional bagi mayoritas pemilih. Sehingga, Sinners kemungkinan besar akan bersinar di kategori teknis dan akting, namun masih menghadapi tantangan berat untuk Best Picture.
Kuda Hitam dan Kejutan
Tak bisa dipungkiri, beberapa film lain masih menyimpan potensi kejutan meski peluangnya terbilang tipis. Sentimental Value misalnya, menuai pujian berkat kekuatan emosional cerita dan aktim antar pemain yang solid. Di sisi lain, Marty Supreme menarik perhatian lewat penampilan utama yang mengesankan dan gaya penyutradaraan berani.
Peluang bagi film-film kuda hitam ini sangat bergantung pada bagaimana suara terpecah di antara kandidat utama. Situasi ini memang jarang terjadi, namun dalam dunia penghargaan, tidak ada yang benar-benar bisa dipastikan hingga amplop dibuka.
Tren Penghargaan Terkini
Belakangan ini, tren penghargaan film internasional sering mengarah pada karya yang menggabungkan kekuatan visual dengan narasi yang menyentuh secara universal. Data riset terbaru menunjukkan bahwa preferensi Academy cenderung berubah setiap 3-5 tahun sekali, bergantung pada isu sosial yang tengah hangat. Salah satu insight menarik adalah meningkatnya apresiasi terhadap film yang mengangkat kisah personal namun memiliki skala produksi epik. Ini menjadi angin segar bagi One Battle After Another yang mengusung tema tersebut.
Jika melihat studi kasus pada ajang serupa lima tahun lalu, film dengan narasi kompleks namun penuh emosi kerap mengalahkan film yang hanya mengandalkan efek visual. Hal ini memperkuat argumen mengapa Hamnet menjadi ancaman nyata. Untuk menyederhanakan prediksi ini, bayangkan Academy sedang memilih film yang tidak hanya enak ditonton, tapi juga meninggalkan bekas di hati penonton—dan di sinilah pertarungan sebenarnya terjadi.
Penutup
Akhirnya, meskipun Sinners memimpin dalam jumlah nominasi, sejarah membuktikan bahwa hal itu bukan jaminan mutlak untuk membawa pulang piala Film Terbaik. Dinamika voting preferensial di dalam tubuh Academy selalu menyimpan ketidakpastian. Namun, hingga detik ini, One Battle After Another tetap menjadi favorit terkuat dengan kombinasi faktor seni dan emosi yang sulit dikalahkan. Persaingan tahun ini akan menjadi pertarungan sengit antara teknikalitas, emosi, dan selera mayoritas. Siapakah yang akan dinobatkan sebagai raja perfilman malam itu? Kita nantikan kejutannya!
Baca juga games lainnya di Info game terbaru atau cek review mobile legends lainnya.

Penulis Berpengalaman 5 tahun.