PM Italia Giorgia Meloni Ingin Nominasikan Donald Trump untuk Nobel Perdamaian, Ini Alasannya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyatakan keinginannya untuk mengajukan Presiden AS Donald Trump sebagai nominator untuk Penghargaan Nobel Perdamaian. Alasan utama di balik usulan ini adalah harapan Meloni agar Trump dapat mengakhiri konflik yang terjadi di Ukraina. Jika upaya tersebut berhasil, Trump dinilai layak mendapatkan penghargaan prestisius tersebut.

“Saya berharap suatu hari nanti kita dapat menganugerahkan Hadiah Nobel Perdamaian kepada Donald Trump,” ujar Meloni dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz, dikutip dari AFP pada Sabtu (24/1/2026).

Meloni meyakini bahwa Trump memiliki kemampuan untuk menciptakan stabilitas dalam konflik antara Rusia dan Ukraina. Ia menegaskan keyakinannya bahwa peran Trump sangat penting bagi masa depan Ukraina.

“Saya percaya bahwa jika dia membuat perbedaan… dalam mencapai perdamaian yang adil dan abadi untuk Ukraina, untuk Ukraina juga… akhirnya, kita juga dapat mencalonkan Donald Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian,” tegasnya.

Di sisi lain, Trump pernah menyampaikan pesan kepada Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store pada hari Senin. Dalam pesannya, Trump menyatakan bahwa kegagalan meraih Nobel Perdamaian akan membuatnya tidak lagi merasa berkewajiban “untuk hanya memikirkan perdamaian”. Pernyataan ini mengindikasikan ambisi kuat Trump untuk mendapatkan penghargaan tersebut.

Terkait dengan inisiatif Dewan Perdamaian atau Board of Peace yang digagas oleh Trump, posisi Italia masih menunggu. Meloni mengaku telah memberitahu Trump bahwa Italia menghadapi kendala serius terkait aturan konstitusional. Berdasarkan laporan media, peraturan dasar negara Italia melarang negara tersebut bergabung dengan organisasi yang dipimpin oleh satu pemimpin asing.

Situasi ini menjadi menarik karena Trump menjabat sebagai ketua “Dewan” tersebut, sekaligus menempati posisi sebagai perwakilan AS dan ketua dewan eksekutif. Struktur kepemimpinan ini yang menjadi kendala bagi partisipasi Italia secara resmi.

Data Riset Terbaru:
Mengutip data dari Pew Research Center tahun 2023, persepsi publik global terhadap kepemimpinan AS mengalami fluktuasi signifikan tergantung pada presiden yang menjabat. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor personalitas pemimpin seringkali menjadi penentu utama dalam dinamika diplomasi internasional, melebihi struktur kelembagaan formal. Dalam konteks ini, hubungan bilateral antara Italia dan AS seringkali bergantung pada chemistry antar kepala negara, di mana Meloni dan Trump dikenal memiliki hubungan politik yang cukup akrab.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Bayangkan sebuah kompetisi olahraga di mana medali emas bukan hanya diberikan kepada atlet yang menang, tetapi juga kepada mereka yang mencegah perkelahian terjadi. Itulah esensi dari Nobel Perdamaian. Giorgia Meloni melihat Donald Trump sebagai sosok “wasit” yang bisa menghentikan pertikaian Rusia-Ukraina. Namun, ada aturan main rumit yang disebut konstitusi Italia. Aturan ini ibarat peraturan klub yang melarang anggotanya bergabung dengan tim lain jika kapten timnya berasal dari luar negeri. Meski Trump menawarkan tiket masuk ke “klub perdamaian” tersebut, Italia harus mempertimbangkan aturan internalnya sendiri sebelum mengiyakan.

Studi Kasus:
Sejarah mencatat bahwa nominasi Nobel Perdamaian seringkali diberikan kepada sosok yang mampu menjembatani konflik kompleks. Contoh nyata adalah pada tahun 1973 ketika Henry Kissinger dan Le Duc Tho dinominasikan untuk mengakhiri Perang Vietnam (meskipun Le Duc Tho menolaknya). Studi kasus ini mirip dengan skenario Trump: seorang pemimpin yang berusaha mengakhiri perang besar melalui negosiasi langsung dan tekanan geopolitik. Bedanya, dalam kasus Trump, tantangan diplomatiknya melibatkan dua kekuatan nuklir besar, Rusia dan sekutu Ukraina, yang menuntut mediasi lebih rumit.

Pada akhirnya, wacana pemberian penghargaan ini bukan sekadar soal prestasi, melainkan juga tentang bagaimana negosiasi diplomatik dijalankan dalam era modern. Jika niatan ini terwujud, itu akan menjadi bukti bahwa diplomasi personal masih memiliki peran vital di tengah ketegangan global yang memanas. Apakah Trump benar-benar mampu mengunci konflik dan menggenggam Nobel, ataukah ini hanya strategi politik tingkat tinggi, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Namun, satu hal yang pasti: setiap langkah menuju perdamaian, sekecil apa pun, patut didukung dan diamati dengan saksama oleh seluruh dunia.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan