Gubernur Aceh Dorong Penataan Hunian Tetap dan Akses Pasca-Bencana di Aceh Timur

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, menegaskan komitmen kuat pemerintah untuk mempercepat proses pemulihan di wilayah terdampak bencana di Kabupaten Aceh Timur. Fokus utama dari upaya ini adalah pembukaan aksesibilitas serta penataan kembali hunian warga pasca-bencana yang terjadi di kawasan tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Tito saat melakukan peninjauan langsung ke Desa Sahraja, Kecamatan Pante Bidari, pada hari Kamis, 22 Januari. Desa ini mengalami dampak cukup parah akibat fenomena banjir bandang. Dalam kunjungan kerja tersebut, Tito didampingi langsung oleh Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky. Tito menggambarkan situasi di lapangan dengan sangat jelas, menyatakan bahwa tidak ada satu pun rumah di desa tersebut yang tetap utuh. Semua bangunan hancur total, bahkan material kayu balok yang sangat besar ditemukan menimpa atap sekolah dan rumah warga, menjadi bukti tingginya intensitas genangan air saat bencana melanda. Warga terpaksa mengungsi karena kerusakan yang dialami tergolong berat dan hampir seluruhnya hilang.

Pemerintah pusat dan daerah terus berupaya keras secara terpadu untuk memulihkan akses menuju wilayah terdampak. Koordinasi intensif dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum (PU), serta pemerintah daerah setempat. Tujuannya adalah agar jalan akses utama dapat segera dilalui kendaraan roda empat. Namun, tantangan di lapangan cukup berat, mengingat sejumlah wilayah di Aceh Timur masih terisolasi akibat putusnya akses jalan darat. Hingga saat ini, penyaluran logistik ke lokasi terpencil hanya bisa dilakukan tiga hari sekali. Tim di lapangan bahkan harus menyeberangi aliran sungai untuk mencapai permukiman warga, terutama di satu dusun yang dihuni sekitar 60 kepala keluarga.

Selain perbaikan akses, Tito juga menyoroti urgensi penataan hunian pascabencana. Ia menekankan pentingnya membangun hunian yang sesuai dengan keinginan dan kondisi sosial masyarakat setempat, bukan sekadar menyediakan hunian seragam dalam satu kawasan besar. Mayoritas warga menginginkan hunian tetap atau huntara yang dibangun di atas tanah milik mereka sendiri di lokasi yang lebih tinggi, bukan dipindahkan ke satu kompleks terpadu.

Upaya percepatan akses dan penataan hunian yang tepat ini diharapkan menjadi kunci untuk mendukung pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat, sekaligus memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan efektif dan berkelanjutan. Tito menilai adanya kemajuan dalam kunjungan keduanya ke Aceh Timur, dengan mentalitas kepemimpinan bupati yang kuat dan tidak kendor menjadi energi positif bagi semangat seluruh satgas di lapangan.

Pemerintah terus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi sambil menyiapkan infrastruktur tahan bencana. Pendekatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan hunian menjadi strategi penting agar pemulihan tidak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga pada aspek psikososial warga. Dukungan logistik yang terus mengalir dan akses yang mulai terbuka menjadi harapan baru bagi masyarakat Aceh Timur untuk segera bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka pasca-tragedi banjir bandang yang menghancurkan.

Melihat kondisi ini, penting bagi kita semua untuk terus mendukung upaya pemulihan dengan cara yang konstruktif. Setiap bantuan dan dukungan moril yang diberikan akan mempercepat proses kebangkitan masyarakat yang terdampak. Kita harus yakin bahwa dengan kerja sama dan kegotongroyongan, bangsa ini mampu melewati ujian bencana dan membangun kembali masa depan yang lebih kuat dan tahan bencana. Mari kita terus peduli dan berkontribusi untuk Indonesia yang lebih tangguh.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan