Cuaca Ekstrem: Pemprov DKI Izinkan Siswa Belajar dari Rumah.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta telah merilis Surat Edaran (SE) Nomor 9/SE/2026 yang memerintahkan penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi seluruh satuan pendidikan di ibu kota. Kebijakan ini diambil sebagai respons darurat terhadap kondisi cuaca ekstrem yang melanda Jakarta, memastikan keselamatan peserta didik tetap menjadi prioritas utama.

Keputusan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Sekretaris Daerah DKI Jakarta, sebagaimana yang diungkapkan oleh Kepala Disdik DKI Jakarta, Nahdiana. Dalam keterangannya, ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan ini untuk mengantisipasi dampak buruk dari anomali iklim yang terjadi.

Berikut adalah rincian poin-poin penting yang tertuang dalam surat edaran tersebut:

  • Penerapan pembelajaran jarak jauh wajib dilakukan oleh semua satuan pendidikan selama periode cuaca ekstrem berlangsung.
  • Kepala sekolah atau satuan pendidikan bertanggung jawab penuh untuk memantau serta mendampingi pelaksanaan PJJ. Jika menemui kendala teknis, mereka harus berkoordinasi dengan Suku Dinas Pendidikan atau Dinas Pendidikan setempat guna menyediakan alternatif solusi pembelajaran.
  • Komunikasi intensif antara kepala satuan pendidikan dengan orang tua atau wali murid harus dijaga untuk memastikan informasi tersampaikan dengan jelas.
  • Aturan ini berlaku efektif hingga tanggal 28 Januari 2026.

Langkah ini selaras dengan peringatan dini dari Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengenai potensi cuaca buruk yang berkepanjangan. Nahdiana mengimbau agar seluruh pihak melaksanakan edaran ini dengan penuh tanggung jawab demi menjaga kontinuitas pendidikan di tengah situasi yang tidak menentu.

Transformasi sistem belajar mendadak ini menghadirkan dinamika baru bagi ekosistem pendidikan Jakarta. Ketika cuaca tidak bersahabat, kebijakan PJJ menjadi tameng vital untuk melindungi siswa dari risiko bencana seperti banjir atau jalan licin, namun di sisi lain menuntut adaptasi cepat dari guru, orang tua, dan siswa. Efisiensi komunikasi antara sekolah dan rumah menjadi kunci keberhasilan, di mana teknologi harus dimaksimalkan untuk menjangkau semua lapisan siswa tanpa terkecuali. Tantangan distribusi materi ajar dan pemantauan kehadiran memerlukan strategi kreatif yang tidak hanya mengandalkan platform digital, tetapi juga mempertimbangkan keterbatasan akses yang dimiliki setiap keluarga.

Di tengah cuaca yang tidak menentu, inovasi dalam pembelajaran jarak jauh justru membuka peluang untuk membangun ketahanan sistem pendidikan yang lebih fleksibel. Momentum ini bisa menjadi ajang uji coba bagi sekolah dalam mengembangkan kurikulum darurat yang responsif terhadap kondisi lapangan. Orang tua memiliki peran sentral sebagai fasilitator utama, mengubah ruang tamu atau dapur menjadi kelas sementara yang nyaman. Dengan kolaborasi erat antara pemerintah, sekolah, dan keluarga, tantangan cuaca ekstrem justru dapat diubah menjadi peluang memperkuat ikatan edukasi berbasis komunitas yang lebih tangguh.

Melihat situasi ini, setiap individu dalam komunitas pendidikan ditantang untuk lebih kreatif dan sabar. Cuaca mungkin menghalangi pertemuan fisik, namun tidak boleh mematikan semangat menimba ilmu. Mari kita manfaatkan momen ini untuk membangun disiplin baru, mempererat kolaborasi antara guru dan orang tua, serta memastikan bahwa pendidikan tetap berjalan meskipun badai menerpa. Keberhasilan masa depan anak-anak kita bergantung pada bagaimana kita merespons tantangan hari ini dengan kebijaksanaan dan kerjasama yang kuat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan