Cegah Bencana, 100 Pohon Ditanam di Situs Singa Perbangsa Kota Banjar

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Gerakan Leuweng Hejo menggelar aksi penanaman seratus pohon di area Situs Singa Perbangsa, Kota Banjar, pada Jumat, 23 Januari 2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah strategis untuk mengamankan stok air baku serta memperkuat daya tahan kota terhadap ancaman bencana. Penanaman pohon di kawasan hutan cagar budaya ini menjadi bagian dari upaya kolektif menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meminimalkan risiko bencana alam di perkotaan.

Cucu Adriyawan Noor, Kepala Cabang Kehutanan Wilayah VII Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, menilai penanaman di lokasi cagar budaya tersebut sebagai investasi penting bagi masa depan lingkungan. Pihaknya menanam sekitar seratus pohon yang terdiri dari berbagai spesies, antara lain manglid, alpukat, picung, palem, dan jambai. Menurut Cucu, aktivitas ini melampaui sekadar aktivitas fisik menanam pohon, melainkan juga penanaman harapan agar sumber mata air tetap terjaga keberadaannya.

Situs Singa Perbangsa memegang peranan krusial sebagai zona resapan air dan penyangga ekosistem di tengah hiruk pikuk Kota Banjar, baik di masa lalu maupun saat ini. Cucu menjelaskan bahwa kerusakan kawasan ini akan berdampak serius bagi masyarakat sekitar. Jika lahan konservasi rusak, Kota Banjar berpotensi besar menghadapi berbagai bencana alam, termasuk banjir dan tanah longsor.

Oleh karena itu, Cucu menegaskan pentingnya pengelolaan kawasan ini secara gotong royong. Upaya pelestarian lingkungan tidak boleh hanya menjadi beban pemerintah, melainkan harus ditanggung bersama oleh seluruh elemen masyarakat agar fungsi hutan tetap optimal. Keterlibatan aktif warga merupakan kunci utama keberhasilan menjaga kelestarian hutan kota. Tanpa dukungan partisipasi masyarakat, segala program konservasi yang dirancang sehebat apa pun tidak akan membuahkan hasil maksimal.

Di sisi lain, Panio, seorang pegiat budaya di Kota Banjar, mengapresiasi kegiatan penanaman pohon sebagai manifestasi nyata pelestarian budaya yang berpijak pada harmoni manusia dan alam. Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga benda-benda sejarah, melainkan juga harus merawat alam. Menanam dan menjaga leuweung atau gunung merupakan bagian integral dari warisan budaya yang wajib dijaga.

Panio menambahkan bahwa pemilihan jenis pohon buah hutan yang ditanam memiliki tujuan ekologis yang lebih luas, salah satunya menjaga keberlangsungan satwa liar yang habitatnya mulai tergerus. Dengan tersedianya sumber pakan di dalam hutan, diharapkan satwa liar tidak perlu turun ke permukiman warga akibat kekurangan makanan.

Pada awal tahun 2024, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa luas tutupan hutan di Jawa Barat mengalami penurunan signifikan, yaitu sekitar 2,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama terjadi di area hutan sekunder dan lahan kritis yang berada di dekat kawasan permukiman. Fenomena ini memperkuat urgensi aksi seperti yang dilakukan oleh Gerakan Leuweng Hejo di Kota Banjar.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh Jurnal Penelitian Sosial dan Ilmu Lingkungan pada pertengahan 2024 menunjukkan bahwa pohon berbuah yang ditanam di kawasan urban tidak hanya berfungsi sebagai penyerap karbon, tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan lokal. Penelitian tersebut mengamati 50 lokasi di kota-kota besar di Asia Tenggara dan menemukan bahwa keberadaan pohon buah di ruang terbuka hijau mampu mengurangi suhu udara hingga 2-3 derajat Celsius serta menyediakan sumber makanan alternatif bagi masyarakat sekitar.

Dalam konteks mitigasi bencana, data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2023 menyoroti bahwa Jawa Barat masih menjadi salah satu provinsi dengan risiko bencana longsor tertinggi. Penghijauan kembali lahan kritis di sekitar zona rawan bencana menjadi strategi utama yang direkomendasikan. Penanaman pohon dengan sistem agroforestri, seperti yang melibatkan tanaman buah dan pohon pelindung, terbukti mampu memperkuat struktur tanah dan mengurangi laju erosi secara signifikan.

Dari sisi sosial ekonomi, komunitas “urban farming” atau pertanian perkotaan juga mengalami pertumbuhan pesat di Indonesia sejak 2020. Komunitas ini sering kali berfokus pada pemanfaatan lahan sempit untuk menanam pohon buah dan sayuran, mirip dengan apa yang dilakukan di Situs Singa Perbangsa. Pendekatan komunitas ini menunjukkan bahwa masyarakat perkotaan semakin sadar akan pentingnya kemandirian pangan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

Studi kasus menarik terjadi di kota Bandung, di mana program “Bandung Lautan Hijau” berhasil menanam ribuan pohon di area perbukitan yang sebelumnya gundul. Dampaknya, tingkat kejadian banjir di beberapa titik kota menurun drastis dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Kesuksesan ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sipil, seperti yang terjadi di Kota Banjar, adalah kunci utama keberhasilan program penghijauan perkotaan.

Selain itu, inovasi dalam teknologi penanaman pohon juga berkembang pesat. Metode “bio-pori” atau lubang resapan biopori kini sering digunakan bersamaan dengan penanaman pohon untuk meningkatkan kemampuan tanah menyerap air hujan. Metode ini sangat cocok diterapkan di kawasan perkotaan yang memiliki tingkat kepadatan bangunan tinggi, sehingga dapat membantu mengurangi genangan air saat musim hujan tiba.

Pentingnya menjaga ekosistem hutan kota juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 tentang kota yang berkelanjutan dan tujuan ke-13 tentang aksi perubahan iklim. Setiap pohon yang ditanam di Kota Banjar bukan hanya menyelamatkan satu nyawa pohon, tetapi juga berkontribusi pada upaya global dalam menanggulangi perubahan iklim dan meningkatkan kualitas hidup manusia.

Melalui aksi penanaman pohon di Situs Singa Perbangsa, kita diajak untuk menyadari bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kolektif yang tidak bisa ditunda lagi. Setiap langkah kecil, seperti menanam satu pohon, memiliki dampak besar bagi masa depan bumi. Mari kita terus bergerak, berkolaborasi, dan menginspirasi orang lain untuk mencintai lingkungan, sehingga warisan alam yang indah ini dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan