Banjir di Patrol Indramayu Rendam 225 Rumah Warga

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Banjir melanda Desa Bugel, Kecamatan Patrol, Indramayu, Jawa Barat, disebabkan oleh luapan Sungai Pembuang Bugel yang berhulu di Sungai Plawad. Bencana ini menggenangi sebanyak 225 rumah dan memporakporandakan kehidupan sekitar 900 jiwa warga setempat.

Camat Patrol, Bagus Asep Trisnadi, menuturkan bahwa dari delapan desa di kecamatan tersebut, Bugel menjadi daerah yang paling sering terdampak banjir. Meskipun daerah lain seperti Limpas, Patrol, dan Sukahaji juga masuk zona rawan, intensitas kerusakan di Bugel jauh lebih tinggi. Menurutnya, bencana ini dipicu oleh aliran air deras dari Sungai Plawad yang bermuara ke Sungai Pembuang Bugel, meluap saat curah hujan di wilayah hulu sedang tinggi.

Kondisi di lapangan menunjukkan ketinggian air di luar rumah warga mencapai 70 hingga 80 sentimeter. Sementara itu, di dalam rumah, genangan berkisar antara 5 hingga 10 sentimeter. Selain merendam pemukiman, luapan air juga mengancam sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi warga.

Salah satu warga, Dewi, mengalami kerusakan di bagian rumahnya. Air masuk hingga kedalaman 10 sentimeter, terutama di ruang tamu yang posisi lantainya lebih rendah dibandingkan area ruang TV. “Kalau air itu masuk ruang tamu kurang lebih 15 sentimeter, beda sama ruang TV karena di ruang TV tanahnya lebih tinggi,” ujarnya.

Analisis dan Data Tambahan

Banjir di Indramayu sering kali dikaitkan dengan sistem drainase yang belum maksimal dan sedimentasi di sungai. Data menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem di wilayah Jawa Barat mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, yang memperparah kapasitas tampung sungai. Solusi jangka panjang membutuhkan normalisasi sungai dan revitalisasi infrastruktur air untuk mengurangi risiko banjir tahunan.

Kasus di Desa Bugel menjadi contoh nyata bagaimana perubahan iklim mempengaruhi pola curah hujan, di mana hujan deras di hulu sungai secara cepat mengalir ke hilir dan menyebabkan banjir bandang. Peningkatan kewaspadaan dan sistem peringatan dini menjadi kunci penting dalam meminimalkan korban jiwa dan materiil.

Menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak terduga, penting bagi kita untuk membangun ketahanan di tingkat lokal. Edukasi mitigasi bencana dan penguatan infrastruktur harus berjalan beriringan. Mari kita bersama-sama menjaga lingkungan dan mendukung upaya pemerintah dalam penanganan bencana demi masa depan yang lebih aman.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan