Trump Tegaskan Tak Akan Pakai Kekerasan Ambil Greenland.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak akan menggunakan paksaan atau kekerasan untuk menguasai Greenland, meskipun dia tetap bersikeras bahwa negaranya harus memiliki wilayah otonom Denmark tersebut. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Presiden AS di hadapan para pemimpin dunia saat Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.

Trump menyatakan, “Kita mungkin tidak akan mendapatkan apa pun kecuali saya memutuskan untuk menggunakan kekuatan dan kekerasan yang berlebihan di mana kita, terus terang, akan tak terhentikan, tetapi saya tidak akan melakukan itu.” Dia menambahkan bahwa masyarakat awalnya mungkin mengira dirinya akan mengambil tindakan agresif, namun kini mereka merasa lega karena dia memilih jalan damai. “Saya tidak perlu menggunakan kekerasan. Sela tidak ingin menggunakan kekerasan. Saya tidak akan menggunakan kekerasan,” tegasnya.

Dalam sesi yang sama, Trump juga membahas konflik geopolitik lainnya, khususnya mengenai Ukraina. Dia mengungkapkan rencana pertemuan dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, untuk membahas langkah-langkah mengakhiri perang dengan Rusia. Trump menyebutkan bahwa baik dirinya maupun Presiden Rusia Vladimir Putin, serta Zelensky, sama-sama ingin mencapai kesepakatan damai.

Namun, Trump kembali menegaskan posisi isolasionis AS dengan mengecam NATO. Dia menegaskan bahwa Washington tidak memiliki keterlibatan langsung dalam konflik tersebut dan menyerahkan tanggung jawab penanganan Ukraina sepenuhnya kepada aliansi militer tersebut. “Saya berurusan dengan Presiden Putin dan saya yakin dia ingin membuat kesepakatan. Saya berurusan dengan Presiden Zelensky dan saya pikir dia ingin membuat kesepakatan. Saya akan bertemu dengannya hari ini,” ujar Trump. “(NATO) harus menangani Ukraina, kita tidak… Kita tidak ada hubungannya dengan itu,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait kehadiran Zelensky di Davos, situasi tampak kurang pasti. Sebelumnya, Zelensky mengindikasikan bahwa dia akan melewatkan forum tersebut untuk tetap berada di Kyiv guna menangani krisis energi yang meluas akibat serangan Rusia, yang menyebabkan pemadaman listrik dan pemanasan massal.

Pernyataan Trump mengenai Greenland ini mengingatkan kembali pada kontroversi di awal masa kepresidenannya pada 2019, di mana dia sempat membatalkan kunjungan ke Denmark setelah Perdana Menteri Mette Frederiksen menolak mentah-mentah ide pembelian Greenland dengan menyebutnya “lucu”. Greenland sendiri memiliki makna strategis vital, terutama terkait kepentingan pertahanan AS di Kutub Utara dan cadangan sumber daya alam yang melimpah, meskipun secara hukum kemerdekaannya berada di bawah Kerajaan Denmark.

Dalam perkembangan terkini terkait diplomasi global, analis memprediksi bahwa pendekatan “America First” yang kembali diusung Trump akan memicu ketegangan baru dengan sekutu tradisional di Eropa. Fokus Trump yang lebih pada negosiasi bilateral dan pengurangan beban finansial bagi AS, termasuk tekanan pada NATO, menunjukkan pergeseran signifikan dalam kebijakan luar negeri AS yang cenderung mengesampingkan multilateralisme. Sementara itu, situasi di Ukraina tetap genting; data terbaru menunjukkan serangan musim dingin Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina telah menyebabkan kerusakan parah, membuat Zelensky fokus pada pemulihan domestik sambil mempertahankan jalur diplomasi terbuka dengan berbagai kekuatan dunia.

Melihat dinamika ini, dunia seolah berada di persimpangan jalan di mana kebijakan pragmatis bertabrakan dengan stabilitas geopolitik yang rapuh. Setiap negara dituntut untuk cerdas dalam menjaga kedaulatan sambil membuka ruang dialog, karena kekuatan sejati tak hanya terletak pada ancaman militer, melainkan pada kemampuan merangkul perbedaan untuk menciptakan masa depan yang lebih damai dan sejahtera bagi seluruh umat manusia.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan