Program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan selama Ramadan, PAN imbau distribusi fleksibel agar tidak mudah basi.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilaksanakan selama bulan Ramadan, namun dengan catatan penting dari Fraksi PAN. Ashabul Kahfi, Kapoksi Komisi IX DPR dari PAN, menegaskan bahwa mekanisme distribusi harus fleksibel agar tidak terkendala oleh sifat makanan yang mudah basi. Ia menilai pelaksanaan MBG saat puasa tidak boleh hanya berjalan secara administratif semata, melainkan harus menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi fisik peserta didik yang sedang berpuasa.

Pengalaman pelaksanaan MBG pada Ramadan sebelumnya menunjukkan adanya tantangan signifikan terkait distribusi dan daya simpan makanan. Oleh karena itu, PAN mendorong pemerintah untuk tidak menerapkan kebijakan seragam secara kaku. Adaptasi sesuai kondisi daerah, budaya lokal, serta kesiapan satuan pelaksana di lapangan menjadi kunci keberhasilan program ini. Ashabul menyarankan agar mekanisme distribusi disesuaikan waktunya, misalnya dilakukan menjelang waktu berbuka atau dalam bentuk makanan yang aman untuk dibawa pulang.

Selain fleksibilitas distribusi, perancangan menu juga menjadi sorotan. PAN menekankan pentingnya desain menu khusus selama Ramadan, bukan sekadar memindahkan menu reguler ke waktu yang berbeda. Menu yang ideal harus tahan lama dan tidak mudah basi, namun tetap memenuhi standar gizi seimbang. Kandungan protein, serat, dan energi yang cukup sangat diperlukan untuk mendukung kebutuhan nutrisi saat berbuka puasa maupun sahur.

Badan Gizi Nasional (BGN) telah memastikan program MBG tetap berjalan dengan skema penyesuaian di setiap wilayah. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa di daerah dengan mayoritas penduduk berpuasa, makanan siap santap diberikan di jam sekolah untuk dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka. Sementara di daerah dengan mayoritas tidak berpuasa, layanan tetap berjalan normal seperti hari biasa, dengan pilihan bagi siswa untuk mengonsumsi makanan di sekolah atau membawanya pulang.

Berikut adalah analisis mendalam mengenai strategi optimalisasi MBG di bulan Ramadan:

  • Tantangan Logistik dan Solusi Lokalisasi: Penelitian terbaru menunjukkan bahwa distribusi makanan selama bulan puasa menghadapi tantangan unik terkait perubahan pola aktivitas masyarakat. Solusi terbaik adalah pendekatan lokal dengan melibatkan UMKM setempat sebagai mitra penyedia. Ini tidak hanya mempercepat distribusi tetapi juga memastikan makanan diterima dalam kondisi optimal karena jarak tempuh yang lebih singkat.
  • Inovasi Menu Tahan Lama: Untuk mengatasi masalah basi, diperlukan inovasi bahan pangan lokal yang memiliki shelf-life lebih panjang. Penggunaan teknik pengolahan seperti dehidrasi atau fermentasi pada sayuran dan protein nabati dapat mempertahankan kandungan gizi tanpa harus menggunakan pengawet kimia. Studi kasus di beberapa daerah menunjukkan bahwa keripik sayur dan abon ikan lokal menjadi alternatif yang disukai anak-anak dan tahan hingga 12 jam.
  • Pola Distribusi Berbasis Zonasi: Mengadopsi sistem zonasi dalam distribusi MBG dapat mengurangi risiko makanan terlambat atau rusak. Zonasi ini membagi area berdasarkan jarak dan waktu tempuh, memastikan makanan tiba tepat waktu sebelum jam berbuka. Pendekatan ini terbukti efektif mengurangi food waste sekaligus menjamin kualitas nutrisi yang diterima siswa.
  • Pendekatan Personalisasi Kebutuhan Gizi: Setiap daerah memiliki kebutuhan gizi spesifik berdasarkan pola konsumsi lokal. Integrasi data kesehatan lokal dapat membantu menyesuaikan komposisi menu agar lebih relevan. Misalnya, di daerah dengan prevalensi anemia tinggi, penguatan kandungan zat besi pada menu berbuka menjadi prioritas utama.

Transformasi MBG selama Ramadan bukan hanya soal kontinuitas layanan, tetapi juga soal kecerdasan strategi dalam menjangkau penerima manfaat. Dengan menggeser fokus dari kepatuhan administratif menuju efektivitas lapangan, potensi program ini untuk memberikan dampak gizi maksimal jauh lebih terbuka. Pendekatan yang lebih humanis dan adaptif ini memastikan bahwa nilai kebermanfaatan program benar-benar dirasakan oleh anak-anak, tanpa terhambat oleh kendala teknis yang sebenarnya bisa diantisipasi.

Pada akhirnya, keberhasilan program ini bergantung pada kecepatan kita merespons realitas di lapangan dengan solusi yang pragmatis. Jangan biarkan birokrasi mengalahkan niat baik memberikan nutrisi terbaik untuk generasi penerus. Mari kita pastikan setiap butir nasi dan lauk pauk yang sampai ke tangan anak-anak bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menguatkan fisik dan mental mereka untuk menghadapi masa depan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan