Prabowo Perintahkan Bentuk Tim Kajian Banjir Jakarta Saat Berada di Swiss

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Presiden Prabowo Subianto secara aktif memantau situasi banjir yang melanda wilayah Jakarta serta proses penanganannya dari lokasi kunjungan kerja di Swiss. Kepala Negara memberikan instruksi tegas kepada jajarannya di Tanah Air untuk segera membentuk tim kajian khusus guna menuntaskan masalah banjir secara menyeluruh. Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, memastikan bahwa Presiden terus memantau dan berkomunikasi intensif dengan jajarannya selama dua hari terakhir.

Dalam arahannya, Prabowo memerintahkan pembentukan tim kajian untuk merancang desain besar penyelesaian masalah banjir, khususnya di Pulau Jawa. Hal ini dilakukan karena masalah banjir merupakan masalah rutin yang kerap berulang setiap tahunnya di wilayah tersebut. Penanganan banjir ke depan akan lebih terintegrasi dari hulu ke hilir melibatkan banyak sektor.

Menurut laporan Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, dalam satu minggu terakhir terdapat 16 titik banjir yang kemudian bertambah menjadi 17 titik. Salah satu titik banjir baru muncul di jalur rel kereta api yang sebelumnya belum pernah terjadi, mengganggu perjalanan dan pelayanan kereta api kepada masyarakat. Prasetyo Hadi menilai curah hujan tinggi pada bulan Januari bukan menjadi faktor utama penyebab banjir. Faktor lain seperti perubahan tata ruang serta pendangkalan daerah aliran sungai turut memberikan pengaruh signifikan.

Perhatian Presiden fokus pada penyelesaian masalah dari hulu ke hilir, termasuk melibatkan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa yang sedang mempersiapkan proyek giant sea wall. Berdasarkan data BPBD, hingga sore ini banjir masih menggenangi sejumlah wilayah Jakarta akibat curah hujan tinggi, dengan catatan 45 RT dan 22 ruas jalan di Jakarta dilanda banjir.

Banjir di ibu kota seringkali dianggap sebagai masalah musiman yang datang dan pergi, namun kenyataannya ini adalah cerminan dari sistem drainase yang belum optimal dan tata ruang yang mulai berubah. Fenomena aliran air yang terhambat di perkotaan menunjukkan perlunya pendekatan holistik, tidak hanya sekadar normalisasi sungai, namun juga revitalisasi ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai resapan alami. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air tidak hanya berasal dari curah hujan lokal, tetapi juga limpahan dari daerah hulu yang kondisinya semakin kritis.

Pemerintah perlu mempercepat integrasi data antar sektor untuk memetakan titik rawan banjir secara akurat. Teknologi pemantauan real-time dapat menjadi alat vital dalam memprediksi volume air dan waktu genangan, memberikan jendela evakuasi yang lebih panjang bagi warga. Selain itu, kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran air dan tidak membuang sampah sembarangan menjadi kunci penting dalam mengurangi dampak banjir.

Melihat kondisi terkini, solusi jangka panjang harus segera diakselerasi. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan swasta diperlukan untuk membangun infrastruktur tahan banjir yang berkelanjutan. Edukasi tentang mitigasi bencana juga harus masuk ke tingkat akar rumput agar masyarakat siap menghadapi situasi darurat. Mari kita bersama-sama mendukung upaya pemerintah dengan menjaga lingkungan dan proaktif dalam setiap kebijakan yang bertujuan untuk mewujudkan kota yang lebih aman dan nyaman ditinggali.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan