Kisah Haru Kakak Sebut Nama Olen Pramugari dalam Video Call Terakhir Sebelum Tragedi Pesawat ATR

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Florencia Lolita Wibisono, yang akrab disapa Olen, berusia 33 tahun, menjadi salah satu korban jiwa dalam kecelakaan mengerikan pesawat ATR 42-500 yang menabrak Gunung Bulusaraung di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Natasya Wibisono, sang kakak, membagikan momen terakhir komunikasi mereka yang terjadi tepat sehari sebelum tragedi nahas tersebut menimpa.

Natasya mengungkapkan bahwa kontak terakhir mereka terjalin pada tanggal 17 Januari. Saat itu, ia sedang mengalami penundaan keberangkatan (delay) di dalam kabin pesawat Wings Air. Kebetulan, Olen juga merupakan mantan pramugari di maskapai yang sama. Natasya menceritakan, adiknya menghubunginya melalui panggilan video pada sore hari itu.

Dalam percakapan video tersebut, Olen bertanya tentang keberadaan sang kakak. Mengetahui Natasya berada di dalam pesawat Wings Air, Olen meminta untuk berbicara dengan kru kabin yang saat itu bertugas. Natasya menuruti permintaan adiknya dengan mendatangi pramugari di bagian belakang pesawat dan menyerahkan ponselnya. Olen pun berbincang sejenak dengan rekan-rekannya, dan percakapan itu menjadi komunikasi terakhir mereka sebelum kepergian Olen untuk selamanya.

keesokan harinya, Natasya yang saat itu berada di Sibolga menerima kabar duka dari calon suami Olen. Pesawat yang ditumpangi adiknya dilaporkan hilang kontak selama kurang lebih satu jam. Natasya kemudian memastikan informasi tersebut kepada beberapa kenalannya yang bekerja di DKUPPU serta rekan-rekan pilot, dan dugaan itu pun ternyata benar adanya.

Perjalanan panjang Natasya untuk tiba di lokasi kejadian dimulai dari Sibolga. Ia menempuh jalur darat menuju Medan dengan waktu tempuh sekitar tujuh jam. Setibanya di Medan, ia melanjutkan penerbangan ke Jakarta, kemudian bergabung dengan keluarga lainnya untuk terbang ke Makassar.

Selama berada di Makassar, keluarga terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian terkait proses evakuasi dan pencarian. Mereka juga menggelar doa bersama untuk Olen. Felix Agoes, kakak ipar Olen, menyatakan bahwa dalam momen doa tersebut, mereka mencurahkan segala ketakutan dan keraguan yang tengah menghantui pikiran mereka.

Meskipun harapan terbesar mereka adalah Olen pulang dalam kondisi selamat, keluarga akhirnya legawa menerima takdir. Momen doa tersebut memberikan ketenangan batin, di mana mereka menyadari bahwa apa yang Tuhan izinkan adalah yang terbaik, menjadikan mereka lebih kuat dalam menghadapi cobaan ini.

Setelah proses evakuasi yang panjang, pihak kepolisian berhasil mengidentifikasi jenazah Olen. Jenazah diserahkan kepada keluarga di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar dan kemudian dibawa ke Rumah Duka Grand Heaven Pluit, Jakarta Utara. Rencananya, jenazah Olen akan diterbangkan ke Manado untuk dimakamkan pada Sabtu, 26 Januari mendatang.

Kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Sulawesi Selatan menjadi pengingat betapa rapuhnya kehidupan, terutama dalam dunia penerbangan yang kerap dianggap aman. Penyelidikan terus berlangsung untuk mengungkap penyebab pasti tragedi ini, sementara keluarga dan rekan-rekan Olen berduka. Olen, seorang pramugari yang telah melayani banyak penumpang, kini meninggalkan kenangan manis bagi mereka yang mengenalnya. Semoga proses evakuasi dan identifikasi korban lainnya dapat segera tuntas, memberikan kepastian bagi keluarga yang menantikan kepulangan orang tercinta.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan