Hari Gizi Nasional, Program MBG di Kota Tasikmalaya Tak Lagi Sekadar Omprengan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 di Kota Tasikmalaya menjadi momentum penting dalam menguji kreativitas pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bertempat di SDN Sukasari pada Rabu (21/1/2026), kegiatan ini menawarkan penyajian berbeda dibandingkan rutinitas sajian berompreng biasanya, dengan mengusung konsep prasmanan sebagai puncak perayaan HGN 2026.

Kepala SDN Sukasari, Yasin Soleh SPd MPd, menyatakan sekolahnya terpilih sebagai salah satu dari 17 titik pelaksanaan puncak HGN di Kota Tasikmalaya. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar membagikan makanan, melainkan upaya menanamkan pemahaman gizi sejak dini kepada siswa. “Kebetulan ini puncak Hari Gizi Nasional ke-66. SD kami terpilih di antara 17 titik di Kota Tasikmalaya. Ada sosialisasi, penyuluhan, supaya anak-anak tahu gizi dan perkembangan anak,” ujarnya.

Yasin menilai MBG hanya merupakan satu pintu masuk edukasi. Menurutnya, pemenuhan gizi harus dipahami secara utuh dan tidak berhenti pada urusan makan semata. “Bukan hanya dari makan, dari MBG, tapi juga aktivitas fisik,” katanya. Dalam pelaksanaannya, SDN Sukasari menggandeng Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Tandala. Berdasarkan musyawarah tim, diputuskan penyajian prasmanan sebagai pembeda dari pola MBG harian. “Karena Hari Gizi Nasional ini, kami bermusyawarah ingin ada story yang berbeda,” terang Yasin.

Melalui konsep prasmanan, siswa diajak untuk lebih aktif, mulai dari mengenali ragam menu bergizi, mengatur porsi, hingga belajar memilih makanan sehat. Ini merupakan pengalaman yang jarang terjadi ketika makanan disajikan rapi dalam ompreng. Menyambung hal tersebut, Ketua DPC Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kota Tasikmalaya, Feni Yulita, menyebut peringatan HGN saat ini terintegrasi dengan sejumlah program pendukung seperti Aksi Bergizi, olahraga bersama, serta edukasi gizi di sekolah. “Sekarang ada Aksi Bergizi, makan tablet Fe bersama, olahraga bersama, dan edukasi gizi,” tuturnya.

Feni menambahkan, konsumsi tablet tambah darah masih difokuskan untuk jenjang SMP, sementara di tingkat SD, pendekatan lebih diarahkan pada pembiasaan makan sehat dan edukasi gizi. “Anak-anak ini generasi emas. Edukasi gizi penting, termasuk untuk mencegah stunting sejak dini,” tambah Feni.

Penerapan konsep prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Sukasari menunjukkan inovasi baru dalam pendidikan gizi. Pendekatan ini mengajarkan kemandirian siswa untuk mengambil makanan sesuai kebutuhan, yang secara tidak langsung melatih kemampuan pengambilan keputusan tentang nutrisi. Berbeda dengan sistem ompreng yang cenderung pasif, metode prasmanan mendorong kesadaran siswa akan variasi makanan sehat yang tersedia. Studi kasus dari kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan gizi dapat disampaikan melalui pengalaman langsung, bukan hanya teori. Infografis sederhana mengenai komposisi menu seimbang dapat disajikan untuk mendukung pemahaman visual siswa, memperkuat pesan bahwa gizi bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas dan keseimbangan.

Melangkah maju, mari kita jadikan setiap momen sebagai kesempatan untuk membentuk kebiasaan hidup sehat, di mana pemahaman tentang nutrisi menjadi dasar kuat bagi generasi penerus untuk tumbuh berkualitas dan berprestasi tanpa batas.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan