Menteri LHK RI Tegaskan Komitmen Indonesia Jaga Keragaman Hayati Global Saat Kunjungan ke London

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan Indonesia, menegaskan komitmen negara dalam melindungi keanekaragaman hayati global melalui penguatan hutan adat, perlindungan satwa liar, dan pemberantasan kejahatan satwa. Pernyataan ini disampaikan saat makan siang bersama The Royal Foundation di London, mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) Breakfast discussion bersama King Charles III pada 21 Januari 2026. Sebelumnya, Raja Juli Antoni juga menyambut kedatangan Presiden di London pada 18 Januari malam dan mengikuti rapat terbatas bersama jajaran menteri pada 19 Januari pagi.

Dalam pertemuan dengan Direktur Eksekutif The Royal Foundation, Tom Clements, Menteri Raja Juli Antoni menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan biodiversitas tertinggi dan berkomitmen penuh pada Global Biodiversity Framework. Pengakuan hutan adat menjadi pilar utama strategi konservasi nasional, memperkuat peran masyarakat adat sebagai penjaga ekosistem. Pada November 2025, dalam United for Wildlife Global Summit di Rio de Janeiro, Indonesia menargetkan penetapan 1,4 juta hektare hutan adat, dengan kemajuan signifikan sepanjang 2025.

“Pengakuan hutan adat memberdayakan masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai garda terdepan penjaga keanekaragaman hayati,” katanya.

Sepanjang tahun 2025, kemajuan nyata telah dicapai dengan sejumlah unit hutan adat yang melalui tahapan penetapan, konsolidasi, verifikasi, hingga penetapan hukum. Untuk menjamin kredibilitas dan kualitas, Indonesia telah menerbitkan Pedoman bagi Calon Verifikator Hutan Adat serta melaksanakan program peningkatan kapasitas di berbagai wilayah.

Selain itu, Indonesia fokus mengurangi konflik manusia dan satwa liar, khususnya konflik manusia-gajah di Sumatra. Peta jalan mitigasi konflik manusia-gajah menargetkan 75 persen konflik dapat dikelola secara efektif dan penurunan risiko hingga 75 persen pada 2030. Dalam menekan kejahatan satwa liar, Indonesia memperkuat patroli di habitat kritis, meningkatkan pengawasan di bandara dan pelabuhan, serta memulangkan satwa hasil perdagangan ilegal ke habitat alaminya. Langkah ini dilakukan untuk menekan perburuan dan perdagangan satwa liar lintas negara.

Indonesia juga memperketat penegakan hukum serta bekerja sama dengan platform digital untuk mencegah perdagangan satwa liar secara daring. “Kami telah menandatangani nota kesepahaman dengan Asosiasi E-Commerce Indonesia untuk mencegah perdagangan ilegal flora dan fauna dilindungi melalui sistem elektronik,” ujar Raja Juli Antoni. Royal Foundation merupakan lembaga filantropi berbasis di Inggris yang didirikan oleh keluarga kerajaan Inggris, Prince William dan Catherine (Kate Middleton), untuk mendukung berbagai inisiatif global di bidang pelestarian lingkungan, aksi iklim, kesehatan mental, dan pemberdayaan masyarakat.

Indonesia menunjukkan komitmen serius dalam konservasi satwa liar dengan pendekatan berbasis masyarakat dan teknologi. Strategi pengelolaan hutan adat yang melibatkan komunitas lokal terbukti lebih efektif dalam mencegah deforestasi dibandingkan metode konservasi top-down. Data terbaru menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan dapat mengurangi laju deforestasi hingga 75% di beberapa wilayah pilot project. Ini membuktikan bahwa perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan.

Kasus keberhasilan konservasi gajah di Sumatra menjadi contoh konkret. Dengan peta jalan mitigasi konflik yang jelas, target penurunan risiko 75% pada 2030 bukan hanya angan-angan. Teknologi seperti drone dan sistem pemantauan digital kini digunakan untuk memantau pergerakan satwa liar dan mencegah konflik sejak dini. Kolaborasi dengan e-commerce juga menjadi terobosan krusial, mengingat 80% perdagangan satwa liar kini beralih ke platform digital.

Integrasi data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa pendekatan multi-dimensi Indonesia—dari hulu hingga hilir—berhasil menekan angka perdagangan ilegal. Namun, tantangan masih ada. Perlu keberlanjutan dukungan internasional dan komitmen domestik yang kuat. Masyarakat global perlu menyadari bahwa setiap pembelian produk ilegal turut mengancam kelestarian satwa langka. Edukasi konsumen dan penegakan hukum yang tegas adalah kunci utama.

Perjalanan konservasi Indonesia menawarkan pelajaran berharga bagi dunia: melindungi alam bukan hanya soal memagari hutan, tetapi juga soal membangun kesadaran dan memberdayakan mereka yang hidup berdampingan dengannya. Dengan kolaborasi global dan inovasi lokal, masa depan keanekaragaman hayati dunia masih bisa diselamatkan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan