Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya Sebut Pengembangan Pasar Cikurubuk Tak Jelas Arahnya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Banyaknya jumlah kios yang tutup di Pasar Cikurubuk, disinyalir bukan semata akibat persaingan dengan pedagang online. Tata kelola pasar tradisional oleh pemerintah melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) juga dinilai berpengaruh.

Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya, Kepler Sianturi menilai konsep pengelolaan pasar terbesar di Kota Tasikmalaya itu tidak jelas. Tidak ada solusi atas setiap persoalan, hingga akhirnya para pedagang meninggalkan lapak. Pihak UPTD disebut hanya fokus pada penagihan retribusi, tanpa visi pengembangan jangka pendek maupun jangka panjang.

“Ada delapan item persoalan utama di Pasar Cikurubuk,” ujar Kepler, Senin (19/1/2026). Persoalan pertama adalah infrastruktur yang menua dan minim perawatan. Kedua, manajemen dan tata kelola pasar oleh pemerintah dinilai lemah. Ketiga, tekanan persaingan dengan minimarket modern dan belanja daring yang tidak diimbangi dengan strategi adaptif dari pengelola pasar.

Masalah keempat, berkaitan dengan kebersihan dan sanitasi yang belum optimal, sehingga menurunkan kenyamanan pengunjung. Kelima, aksesibilitas dan parkir yang semrawut, membuat masyarakat enggan berlama-lama berbelanja. Keenam, hampir tidak pernah ada promosi atau pemasaran produk unggulan Pasar Cikurubuk. Ketujuh, sistem pembayaran yang tertinggal dari perkembangan teknologi. Kedelapan, lemahnya penegakan aturan, yang membuat banyak kios mangkrak tanpa kejelasan penindakan.

Kondisi tersebut, menurut Kepler, menjelaskan mengapa ribuan kios—yang sebelumnya mencapai angka seribuan lebih—perlahan tutup. “Banyak pedagang akhirnya tidak membayar retribusi dan memilih meninggalkan kios. Ini bukan semata kesalahan pedagang, tapi efek langsung dari tata kelola yang amburadul,” ungkapnya.

Komisi II DPRD, lanjut Kepler, sebenarnya sudah berulang kali mengingatkan Dinas KUMKM Perindag—yang berwenang menangani pasar— mengenai persoalan itu. Penekanan utama adalah perlunya revitalisasi infrastruktur pasar, serta peningkatan kualitas manajemen UPTD 1 dan 2. Ia juga mendorong adanya keberpihakan langsung dari Wali Kota Tasikmalaya agar Pasar Cikurubuk benar-benar diperbaiki secara menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam. Sebagai langkah konkret, Kepler mengusulkan agar pengelola pasar aktif menggandeng event organizer.

Di tengah persaingan ekonomi digital yang semakin ketat, eksistensi pasar tradisional seperti Pasar Cikurubuk sebenarnya masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat, terutama terkait aspek keberlanjutan ekonomi lokal dan interaksi sosial. Namun, tanpa dukungan infrastruktur yang memadai dan manajemen yang progresif, pasar rakyat berpotensi besar tergerus waktu. Data menunjukkan bahwa transformasi digital pasar tradisional di Indonesia baru menyentuh angka 20-30%, mengindikasikan ruang besar untuk inovasi pembayaran non-tunai dan pemasaran online terintegrasi yang saat ini belum maksimal di Pasar Cikurubuk.

Studi kasus di pasar modern seperti Pasar Santa Jakarta menunjukkan bagaimana revitalisasi fisik dan penataan ulang manajemen berhasil mengangkat kembali daya saingnya melawan mal-mal besar. Pendekatan serupa diperlukan di Tasikmalaya, di mana kolaborasi antara pemerintah, pedagang, dan komunitas digital menjadi kunci utama. Implementasi sistem pembayaran digital yang terintegrasi dengan platform e-commerce lokal dapat menjadi solusi nyata mengatasi keterbatasan aksesibilitas, sekaligus membuka pasar yang lebih luas tanpa harus meninggalkan kearifan lokal budaya Sunda.

Masa depan pasar tradisional bukanlah tentang melawan arus modernisasi, melainkan bagaimana cara menyatu dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya. Jika tata kelola dan komitmen perbaikan infrastruktur berjalan sinergis, Pasar Cikurubuk berpotensi kembali menjadi pusat perekonomian yang tangguh dan nyaman bagi semua kalangan. Mari bersama-sama mendukung transformasi ini, karena kemajuan ekonomi daerah dimulai dari keberpihakan pada rakyat kecil yang menjadi tulang punggung negeri.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan