Pejabat Iran Akui 5.000 Orang Tewas dalam Gelombang Demo Besar-besaran

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Angka kematian dalam aksi protes yang melanda Iran beberapa pekan terakhir memang sulit untuk dipastikan secara akurat, terutama mengingat adanya pemutusan akses internet dan saluran komunikasi lainnya. Namun, seorang pejabat pemerintah Iran menyebutkan bahwa setidaknya 5.000 orang telah kehilangan nyawa mereka selama gelombang demonstrasi ini berlangsung.

Pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya itu menyatakan bahwa angka tersebut berasal dari data korban jiwa yang telah terverifikasi. Dalam pernyataannya yang dilansir Reuters pada Senin (19/1/2026), ia menuding “teroris dan perusuh bersenjata” sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian warga sipil Iran yang tidak berdosa.

Aksi protes antipemerintah ini mulai muncul pada 28 Desember tahun lalu, didorong oleh krisis ekonomi yang melanda negara tersebut. Dalam tempo dua minggu, gerakan ini meluas dan berubah menjadi aksi unjuk rasa besar-besaran yang menuntut berakhirnya pemerintahan ulama di Teheran. Situasi ini menjadi kerusuhan paling mematikan sejak peristiwa Revolusi Islam pada tahun 1979 silam, di mana aparat keamanan Iran dilaporkan menindak para demonstran dengan keras.

Berbeda dengan klaim pemerintah, organisasi hak asasi manusia (HAM) yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists in Iran (HRANA), merilis data yang berbeda. Hingga Sabtu (17/1), HRANA mencatat setidaknya 3.308 orang tewas, dengan 4.382 kasus lainnya masih menunggu proses peninjauan. Selain korban jiwa, HRANA juga melaporkan penangkapan lebih dari 24.000 orang selama periode kerusuhan.

HRANA dikenal memiliki rekam jejak akurasi yang baik dalam melaporkan situasi di Iran. Mereka menghimpun data dengan memanfaatkan jaringan pendukung di lapangan untuk melakukan pemeriksaan silang terhadap informasi yang diterima.

Kembali ke klaim pejabat pemerintah, angka 5.000 korban tewas ini disebutkan sebagai data final yang kemungkinan besar tidak akan mengalami peningkatan signifikan. Pejabat tersebut juga menambahkan bahwa sebagian besar konflik dan angka kematian tertinggi terjadi di wilayah Kurdi di bagian barat laut Iran. Ia menyalahkan “Israel dan kelompok bersenjata di luar negeri” atas dukungan dan persenjataan yang diberikan kepada para pengunjuk rasa. Pemerintah Iran secara konsisten menuding musuh-musuh asing, termasuk AS dan Israel, sebagai biang kerusuhan di wilayah mereka.

Situasi semakin pelik karena akses informasi di Iran terhambat oleh pemadaman internet. Meskipun sempat pulih selama beberapa jam pada Sabtu pagi, NetBlocks melaporkan bahwa pemadaman kembali diberlakukan pada malam harinya. Sementara itu, tiga sumber Reuters mengungkapkan bahwa kelompok separatis Kurdi bersenjata sempat berupaya menyeberangi perbatasan dari Irak, menunjukkan adanya entitas asing yang berusaha memanfaatkan ketidakstabilan di Iran.

Krisis kemanusiaan yang terjadi di Iran menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas sebuah negara ketika suara rakyat terabaikan dan informasi dibungkam. Perbedaan angka antara pemerintah dan lembaga independen menuntut kita untuk lebih kritis dalam menyerap informasi, sekaligus mengingatkan bahwa di balik angka statistik, terdapat nyawa manusia yang harus dihargai. Mari terus berjuang untuk kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia di belahan dunia mana pun, karena kebenaran adalah fondasi utama bagi perdamaian yang berkeadilan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan