Harapan Keluarga Pramugari Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di Bulusarung Terus Dipanjatkan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Florencia Lolita Wibisono, seorang pramugari berusia 32 tahun, tercatat sebagai penumpang dalam manifes penerbangan pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di area Gunung Bulusarung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Keluarga besarnya masih menaruh harapan besar akan kabar baik mengenai wanita yang karib disapa Olen tersebut.

Suly Mandang, bibi Olen, menyampaikan bahwa pihak keluarga masih berharap yang terbaik untuk Olen. Suly turut menemani ibu Florencia dalam perjalanan menuju Makassar. Kepergian Olen secara mendadak menimbulkan duka mendalam bagi seluruh anggota keluarga. Sebelum kejadian, Olen sempat menjalin komunikasi dengan keluarganya pada Jumat, 16 Januari 2026.

Olen dikenal sebagai sosok yang sangat aktif berkomunikasi dengan keluarga. Dia selalu menyempatkan diri memberikan kabar setiap kali memiliki waktu luang dari kesibukan pekerjaannya. “Ibunya belum lama keluar rumah sakit. Saat ibunya sakit Olen rutin telepon saat ada waktu luang,” ujar Suly.

Sebelum melakukan penerbangan naas tersebut, Olen yang telah mengabdi sebagai pramugari selama 14 tahun terakhir sempat memohon doa restu dari sang ibu. Olen bertolak dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu, 17 Januari 2026. “Sebelum dia (Olen) berangkat dari Jogjakarta ke Makassar itu memberi tahu bahwa akan melakukan perjalanan dinas di situ dia minta doakan untuk perjalanannya,” ungkapnya.

Belakangan ini, dunia penerbangan nasional kembali dikejutkan oleh insiden yang menimpa armada ATR 42-500 di kawasan Sulawesi Selatan. Kecelakaan ini menyoroti pentingnya aspek keselamatan penerbangan di wilayah pegunungan yang kerap memiliki medan cukup menantang. Insiden yang terjadi di Gunung Bulusarung, Kabupaten Pangkep, menjadi perhatian serius mengingat rute penerbangan domestik seringkali melewati area geografis yang kompleks. Para ahli aviasi menekankan bahwa faktor cuaca ekstrem dan kondisi geografis pegunungan menjadi tantangan utama yang harus diwaspadai dalam setiap operasional penerbangan di Indonesia.

Dari sisi teknis, pesawat ATR 42-500 dikenal sebagai salah satu armada turboprop yang cukup handal untuk melayani rute perintis. Namun, insiden ini mengingatkan kita bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh dikompromikan. Peningkatan standar operasional prosedur dan pelatihan kru kabin serta pilot menjadi hal yang krusial untuk terus ditingkatkan. Masyarakat dan pihak keluarga korban tentu berharap adanya transparansi dalam investigasi untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan ini guna mencegah kejadian serupa di masa depan.

Kita belajar bahwa setiap detik perjalanan adalah anugerah yang patut disyukuri. Mari kita gunakan waktu yang ada untuk terus mendukung satu sama lain, karena di balik setiap musibah selalu ada hikmah dan kekuatan yang tersimpan untuk membangun kesadaran bersama akan pentingnya menjaga keselamatan dalam setiap langkah kita.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan