Tabrakan Maut Pesawat ATR 42-500 di Lereng Gunung, Hancur Berkeping-keping

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dikonfirmasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebagai insiden tabrakan langsung ke lereng gunung. Pesawat yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak tersebut menabrak lereng Gunung Bulusaraung, mengakibatkan serpihan badan pesawat berhamburan akibat benturan keras.

Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, menyatakan bahwa insiden ini dikategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT). “Kejadian ini kita namakan CFIT, controlled flight into terrain. Jadi memang pesawat nabrak bukit atau lereng (gunung) sehingga terjadi beberapa pecahan, serpihan, akibat benturan dengan lereng tadi,” ujar Soerjanto dalam konferensi pers di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

Meskipun belum menjelaskan detail pemicu pasti kecelakaan, Soerjanto menegaskan bahwa pesawat masih berada dalam kendali penuh pilot sebelum menabrak. “Jadi memang kita mengkategorikan sebagai CFIT, jadi pesawatnya bisa dikontrol oleh penerbangnya, tapi menabrak bukan sengaja,” lanjutnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pengendalian pesawat tidak bermasalah, namun arah penerbangan mengarah langsung ke medan pegunungan.

Sebelumnya, tim SAR gabungan telah berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung, tepatnya di Kabupaten Pangkep. Puing-puing pesawat ditemukan pada ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut (MDPL), mengonfirmasi teori tabrakan ke medan tinggi yang disebut CFIT.


Klasifikasi insiden Controlled Flight Into Terrain (CFIT) menjadi peringatan krusial bagi dunia penerbangan modern, di mana pesawat yang sebenarnya berfungsi normal secara teknis tetap bisa mengalami kecelakaan fatal akibat navigasi yang salah. Fenomena ini seringkali disebabkan oleh faktor human error, cuaca ekstrem, atau kegagalan koordinasi antara pilot dan menara kendali, yang membuat pesawat “tidak sadar” akan kedekatan medan di bawahnya. Data riset terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 70% insiden CFIT disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan lingkungan, bukan kerusakan mesin.

Analisis unik mengenai kasus ini menyoroti pentingnya teknologi Ground Proximity Warning System (GPWS) yang canggih. Di daerah pegunungan seperti Sulawesi yang medannya kompleks, sistem peringatan dini harus lebih responsif terhadap perubahan topografi. Studi kasus serupa di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa pelatihan simulasi darurat di kondisi cuaca buruk dapat mengurangi risiko CFIT hingga 40%. Infografis perbandingan antara insiden akibat kerusakan mesin versus CFIT seringkali menunjukkan bahwa CFIT mendominasi angka kecelakaan di area pegunungan, menggarisbawahi perlunya peningkatan standar navigasi visual dan digital bagi maskapai penerbangan regional.

Setiap perjalanan memiliki risiko yang tak terduga, namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Terbanglah dengan kehati-hatian dan selalu perbarui informasi navigasi, karena langit yang luas membutuhkan kewaspadaan penuh untuk mendarat dengan selamat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan