Dunia kini memasuki fase ruptur geopolitik yang retak dan tak terbendung. Di tengah euforia pergantian tahun baru 2026, kejutan besar terjadi ketika militer Amerika Serikat melakukan aksi terbuka dengan menangkap Presiden Nicolas Maduro di Caracas, ibu kota Venezuela. Intervensi militer ini bukan sekadar aksi lokal, melainkan sinyal kuat perubahan arah tatanan global yang menunjukkan kekuatan, dominasi, dan perebutan sumber daya yang semakin langka. Fenomena ini membuka babak baru peta geopolitik global yang semakin memanas dan mengkhawatirkan. Peneliti dari Strategic Foresight Hub Stimson Center, Manning dan Burrows, bahkan menyebut tahun 2026 sebagai gerbang masuk menuju era kekacauan (Age of Chaos), di mana ketidakstabilan global menjadi ancaman nyata bagi seluruh negara.
Risiko geopolitik kini nyata di depan mata, ditandai dengan melemahnya ekonomi global, tersendatnya multilateralisme, masuknya era nuklir ketiga, hingga disrupsi akibat kecerdasan buatan. Gejolak di kawasan Asia-Pasifik, Eropa, dan Timur Tengah saling berkelindan, memicu instabilitas global secara berantai yang tak terkecuali mengancam Indonesia. Di balik ancaman tersebut, terdapat faktor fundamental yang sering terabaikan: keterbatasan sumber daya alam yang menjadi rebutan negara adidaya. Seiring pertumbuhan populasi dan fluktuasi ekonomi, permintaan terhadap komoditas pangan dan energi meningkat drastis. Sumber daya strategis ini menjadi “power resource” yang vital, namun tidak semua negara memilikinya, sehingga memicu ketegangan.
Sumber daya strategis menentukan keberlanjutan di masa depan. Dengan tensi geopolitik yang meningkat, konflik terkait sumber daya akan menjadi pertarungan utama dalam agenda kebijakan global. Banyak sumber daya vital berada di wilayah rawan konflik, memperkuat potensi risiko geopolitik. Perebutan sumber daya alam sering menjadi pemicu konflik bersenjata, dan ketika risiko geopolitik meningkat, konflik tersebut semakin memburuk, mengancam stabilitas regional (Song dkk, 2024).
Menghadapi dinamika ini, pertanyaan krusial bagi Indonesia bukan lagi soal siapa yang benar atau salah, melainkan seberapa siap menghadapi dampaknya. Ketahanan nasional terhadap sumber daya strategis adalah kunci yang harus disiapkan. Ketahanan negara saat ini tidak lagi cukup diukur dari kekuatan militer semata, melainkan kemampuan menjaga kebutuhan dasar masyarakat, terutama pangan dan energi. Sumber daya strategis ini adalah aset vital yang harus diamankan. Ketika konflik global pecah, pangan dan energi berubah menjadi komoditas langka. Perang menyebabkan gangguan distribusi dan pembatasan ekspor, memicu kelangkaan dan lonjakan harga drastis. Negara yang bergantung pada impor akan terjebak dalam posisi lemah.
Indonesia tidak kebal terhadap guncangan global. Resonansi krisis di negara lain pasti akan dirasakan. Peringatan Presiden Prabowo Subianto tentang bahaya ketergantungan impor patut dijadikan alarm. Sejak awal masa pemerintahannya, Presiden Prabowo telah menegaskan komitmen kuat menuju swasembada pangan dan energi, sebagaimana disampaikan dalam pidato pertamanya usai sumpah di Gedung Nusantara, 20 Oktober 2024. Komitmen ini lahir dari kesadaran bahwa dunia ke depan semakin kompetitif dan penuh risiko geopolitik. Sebagai ahli strategi militer, Presiden Prabowo telah lama memberikan atensi penuh terhadap agenda ketahanan pangan dan energi. Negara yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri akan jauh lebih kuat menghadapi tekanan global, sanksi ekonomi, maupun gangguan rantai pasok internasional.
Pemanfaatan sumber daya strategis diarahkan agar tidak sekadar menjadi komoditas ekspor mentah, melainkan sumber nilai tambah bagi perekonomian nasional. Hilirisasi, industrialisasi berbasis sumber daya domestik, serta penguatan industri strategis menjadi fondasi ekonomi nasional. Namun, kebijakan negara tidak akan berarti tanpa dukungan seluruh elemen masyarakat. Ketahanan nasional adalah kerja bersama. Dukungan terhadap produk dalam negeri, kesadaran akan kemandirian pangan dan energi, serta sikap rasional menyikapi dinamika global adalah kontribusi setiap warga negara.
Di tengah perbedaan pandangan politik, kepentingan nasional harus menyatukan kita. Di dunia yang bergejolak, Indonesia tidak boleh kehilangan fokus pada penguatan ketahanan nasional. Seluruh energi bangsa sebaiknya difokuskan mendukung program strategis pemerintah. Sejarawan Yunani Thucydides mengingatkan, pihak kuat melakukan apa yang mampu mereka lakukan, sementara yang lemah menanggung akibatnya. Bangsa yang tidak siap menghadapi risiko geopolitik akan tergilas. Ini peringatan bersama bagi Indonesia. Dalam tatanan global yang keras, hanya negara kuat yang mampu menentukan nasibnya sendiri. Indonesia tidak boleh berada di posisi lemah. Dunia mungkin tidak bisa dikendalikan, tetapi ketahanan nasional sepenuhnya berada dalam genggaman kita.
Memasuki tahun 2026, kita harus bergegas menyiapkan diri dan memperkuat agenda strategis bangsa menghadapi risiko geopolitik yang nyata. Memperkuat ketahanan nasional terhadap sumber daya strategis bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mutlak untuk kepentingan nasional.
Transformasi geopolitik global yang terjadi saat ini menuntut Indonesia untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktor yang proaktif dalam mengamankan sumber daya vitalnya. Ancaman disrupsi pasokan pangan dan energi akibat konflik antarnegara menjadi isu krusial yang memerlukan strategi mitigasi jangka panjang. Pemerintah perlu mempercepat diversifikasi sumber energi baru terbarukan dan memperkuat cadangan pangan strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Di sisi lain, industrialisasi berbasis sumber daya domestik harus digenjot untuk menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi, sehingga devisa negara tidak hanya mengalir ke luar akibat ekspor bahan mentah. Masyarakat juga diajak untuk lebih sadar konsumtif terhadap produk lokal sebagai bentuk dukungan terhadap ketahanan ekonomi nasional. Dengan kolaborasi semua pihak, Indonesia bisa membangun benteng pertahanan yang kokoh di tengah badai ketidakpastian global.
Di era yang penuh ketidakpastian ini, ketahanan nasional adalah kunci keberlangsungan hidup bangsa. Kita tidak bisa mengendalikan badai geopolitik di luar sana, namun kita memiliki kendali penuh atas bagaimana mempersiapkan diri dan memperkuat fondasi dalam negeri. Setiap langkah yang kita ambil hari ini—dari mendukung produk lokal hingga menghemat energi—adalah investasi besar untuk masa depan yang lebih stabil. Jangan biarkan kita menjadi korban kelemahan, mari bangun kekuatan dari dalam diri dan bangsa. Saatnya kita bersatu, fokus pada kepentingan nasional, dan memastikan Indonesia mampu berdiri tegak di tengah guncangan dunia. Masa depan ada di tangan kita, persiapkanlah dengan bijak dan tegas.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.