Kemensos Bangun Dapur Umum dan Kirim Bantuan ke Korban Banjir di Pekalongan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kementerian Sosial (Kemensos) bergerak cepat dengan menggandeng pemerintah daerah untuk mendirikan dapur umum serta menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak banjir di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau akrab disapa Gus Ipul, menyatakan bahwa tim di lapangan terus melakukan asesmen, evakuasi korban, serta pendistribusian logistik secara intensif.

Banjir yang melanda kota tersebut dipicu oleh curah hujan tinggi yang turun tanpa henti sejak Jumat, 16 Januari 2026, pukul 19.30 hingga 03.00 WIB. Keadaan paling kritis terjadi di Kecamatan Pekalongan Barat, khususnya di Kelurahan Tirto dan Pasir Kraton Keramat. Di Kelurahan Tirto, kondisi semakin parah akibat luapan air dari Sungai Bremi dan sistem pompa air yang tidak berfungsi, menyebabkan ketinggian air mencapai 30 hingga 80 sentimeter.

Selain di Barat, genangan air juga meluas ke Kecamatan Pekalongan Timur, meliputi Kelurahan Kalibaros, Poncol, Setono, Nayontaansari, dan Klego, dengan ketinggian air 20-50 cm. Sementara itu, di Kecamatan Pekalongan Selatan, wilayah yang terdampak antara lain Kelurahan Banyurip, Jenggot, serta Kuripan Yosorejo, dengan ketinggian air 20-40 cm.

Data sementara menyebutkan terdapat 8.692 Kepala Keluarga (KK) yang terkena dampak bencana ini. Sebanyak 987 jiwa terpaksa mengungsi ke 11 lokasi, dengan mayoritas berada di Aula Kecamatan Pekalongan Barat. Untuk menangani situasi ini, Kemensos berkolaborasi dengan Dinas Sosial, BPBD, TNI, Polri, Tagana, dan relawan lainnya dalam berbagai upaya, termasuk asesmen cepat, evakuasi, dan pendirian dapur umum lapangan. Dapur umum tersebut didirikan di halaman Kantor Dinas Sosial Kota Pekalongan.

Kemensos juga telah menyalurkan bantuan logistik melalui Gudang Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. Bantuan yang diberikan meliputi 1.000 paket makanan siap saji, 800 paket lauk pauk siap saji, 200 lembar kasur, 100 lembar tenda gulung, 100 paket Family Kit, dan 100 paket Kids Wear. Koordinasi terus diperkuat untuk mempercepat penanganan dan memastikan keselamatan seluruh masyarakat yang terdampak.


Banjir di Kota Pekalongan menjadi pengingat betapa pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam yang kerap datang tanpa diduga. Data terbaru menunjukkan bahwa perubahan iklim memicu pola cuaca ekstrem, sehingga intensitas hujan di berbagai wilayah Indonesia semakin tidak menentu. Analisis dari berbagai studi kasus menunjukkan bahwa kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah dalam penanganan bencana mampu mempercepat proses evakuasi dan pemulihan, namun kesiapan infrastruktur drainase di perkotaan masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Sebagai contoh, dalam studi kasus bencana serupa di berbagai daerah, penerapan teknologi sistem peringatan dini berbasis aplikasi mobile terbukti mengurangi risiko kehilangan nyawa hingga 30%. Infografis yang dirilis oleh lembaga mitigasi bencana seringkali menyoroti pentingnya menyiapkan stok logistik minimal 72 jam bagi pengungsi. Namun, di balik data dan angka, kecepatan respons relawan dan masyarakat sekitar dalam membantu evakuasi seringkali menjadi faktor penentu keselamatan. Kondisi di Pekalongan hari ini menunjukkan bagaimana gotong royong lintas sektor mampu memitigasi dampak kerusakan, meski tantangan perbaikan drainase dan normalisasi sungai masih menghadang.

Jangan biarkan bencana menghentikan langkah kita; setiap krisis membawa pelajaran berharga untuk membangun ketahanan yang lebih kuat. Mari kita terus bergerak, berkolaborasi, dan saling mendukung agar setiap tantangan bisa dilalui dengan penuh harapan dan keberanian.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan